Ketika Kurban Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Setiap Iduladha, jutaan hewan kurban disembelih dan dibagikan kepada masyarakat tanpa transaksi jual beli. Iduladha bukan sekadar ritual spiritual, melainkan mekanisme sosial dan ekonomi yang telah bertahan ribuan tahun.

Iduladha berawal dari kisah Nabi Ibrahim. Saat itu, Nabi Ibrahim bangun dari tidurnya, disusul ingatan perintah Tuhan dalam mimpi yang disampaikan secara berulang-ulang, mimpi itu berisi perintah untuk menyembelih putra semata wayangnya. Ketika hendak menyembelih Ismail, Ibrahim mendapat kabar termasuk sebagai orang yang sabar, taat dan ikhlas menerima ketentuan Tuhan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan izin Allah, posisi Ismail ditukar dengan seekor domba yang sampai saat ini menjadi syariat bagi umat muslim setiap tanggal 10,11,12 dan 13 Dzulhijjah.

Hikmah dari momen ini adalah kepatuhan terhadap Tuhan yang hukumnya mutlak. Tidak ada prioritas yang lebih utama di atas perintah Tuhan. Bahkan terhadap putra yang paling dicintainya, Ibrahim tetap menempatkan perintah Tuhan di atas segalanya.

Niat dalam berkurban harus lillahi ta’ala (murni karena Allah), namun secara praktik implementasi ketaatannya lewat tindakan sosial, yang menghubungkan manusia satu dengan yang lainnya.

Emile Durkheim menyebut agama sebagai sumber solidaritas sosial melalui kesadaran kolektif (collective consciousness), yakni nilai yang mempersatukan masyarakat. Dalam konteks Iduladha, semangat berbagi daging kurban memperkuat rasa kebersamaan lintas kelas sosial.

Syariat agama tidak hanya soal nilai ritual kepada Tuhan, tapi juga mempunyai nilai sosial, membuat masyarakat berkumpul, mempererat hubungan antarwarga, dan meminimalisasi sekat kelas sosial di masyarakat.

Dimensi Ekonomi

Momen Iduladha selalu terlaksana setiap tahun, sistem dari mulai penyembelihan hewan hingga pembagian daging kurban yang telah berjalan, sudah teruji ribuan tahun untuk memutar perekonomian secara efektif hingga mampu memperbaiki gizi rakyat.

Dalam perspektif ekonomi pasar, praktik kurban tampak tidak berorientasi profit. Dalam waktu tiga hari hewan disembelih dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat tanpa transaksi jual beli, tanpa profit dan tanpa akumulasi laba. Justru di situlah letak keunikan kurban: redistribusi yang berjalan atas dasar solidaritas spiritual, bukan semata mekanisme pasar

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan