Sebelum sampai di Minggir, Festival Dunia Santri sesungguhnya telah lebih dahulu mengajak kami bertaut dengan jejak-jejak pemikiran para ulama yang menyalakan api kebangsaan dari lingkungan pesantren. Perjalanan itu kami awali pada 19 April 2026 di Pondok Pesantren Dar el-Fikr, Serua. Dari sana kami menyapa kembali pemikiran almaghfurlah K.H. Abdul Wahab Hasbullah—seorang kiai dari Jombang yang tidak hanya mendirikan organisasi besar Nahdlatul Ulama tapi juga mengajarkan bahwa pesantren tidak pernah menjadi menara gading yang menjauh dari kehidupan bangsa. Justru dari pesantrenlah lahir gagasan-gagasan yang menggerakkan masyarakat.
Saya teringat bagaimana Kiai Wahab membangun Taswirul Afkar, ruang tempat para santri dan kaum terpelajar berdialog, bertukar pikiran, dan menumbuhkan kesadaran intelektual. Dari sana lahir keberanian untuk berpikir, berdiskusi, dan membaca perubahan zaman. Ketika beliau mendirikannya semangat cinta tanah air memperoleh wadahnya.

Melalui Syubbanul Wathan, kaum muda ditempa agar tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga siap mengabdi kepada bangsa. Semangat itu kemudian menjelma dalam Ansor, yang sejak awal didirikan bukan semata sebagai organisasi kepemudaan, melainkan sebagai ikhtiar menjaga agama, masyarakat, dan tanah air dalam satu tarikan napas. Dari Kiai Wahab kami belajar bahwa nasionalisme bukanlah sesuatu yang datang dari luar pesantren, melainkan tumbuh dari kedalaman ajaran Islam yang memuliakan tanah kelahiran sebagai ruang pengabdian.
Perjalanan itu kemudian berlanjut ke Banten, pada 4 Juni 2026. Di tanah kelahiran Syekh Nawawi al-Bantani, kami mendiskusikan buku Islam, Sastra, Pengetahuan karya Jamal D. Rahman di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang. Di sana kami kembali disadarkan bahwa kitab-kitab yang ditulis Syekh Nawawi bukan sekadar himpunan ilmu keislaman. Kitab-kitab itu telah membentuk cara berpikir, melahirkan generasi ulama Nusantara, dan menjadi mata air keilmuan bagi para kiai yang kelak turut menumbuhkan kesadaran kebangsaan hingga mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.
Dari Kiai Wahab Hasbullah kami belajar bahwa pesantren harus hadir di tengah kehidupan bangsa. Dari Syekh Nawawi al-Bantani kami belajar bahwa ilmu adalah jalan panjang yang membebaskan akal sekaligus memuliakan manusia.
Maka, ketika perjalanan Festival Dunia Santri 2026 akhirnya berlabuh di pesantren panjenengan di Minggir, saya merasa seluruh mata rantai itu seakan bertemu: pesantren, ilmu, kebudayaan, dan kebangsaan kembali duduk dalam satu majelis.
Di Minggir, saya tidak hanya melihat sawah yang membentang. Saya mendengar angin yang datang dari Kali Progo. Saya menyaksikan santri berlalu-lalang dan santri mengaji sepanjang waktu. Semuanya tampak biasa. Namun justru dari kebiasaan itulah saya belajar bahwa peradaban tidak selalu dibangun oleh peristiwa besar. Ia tumbuh dari kesabaran, dari pengajian yang tidak pernah libur, dari doa yang tidak pernah putus, dari guru yang tetap mengajar meski tak pernah berharap dikenang sejarah.
Terima kasih, Gus, karena panjenengan tidak hanya membuka gerbang pesantren. Panjenengan membuka ruang perjumpaan.
Di halaman pesantren itu kami melihat sastra duduk berdampingan dengan kitab. Jurnalisme berbincang akrab dengan tradisi pesantren. Para santri berdialog dengan penyair, akademisi, penulis, dan masyarakat tanpa kehilangan adab. Rasanya, dinding-dinding yang selama ini memisahkan ilmu menjadi runtuh begitu saja.
Minggir mengajarkan kepada kami bahwa sebuah kampung tidak diukur dari ramainya jalan raya, melainkan dari hidupnya percakapan. Dan percakapan itu masih kami temukan di pesantren panjenengan.
Saya percaya, keputusan menyelenggarakan Festival Dunia Santri 2026 di Minggir bukanlah kebetulan. Ada kehendak kebudayaan yang bekerja diam-diam. Festival ini seakan ingin mengatakan bahwa masa depan literasi santri tidak cukup dibangun di gedung-gedung megah, tetapi harus tumbuh dari tanah yang masih akrab dengan sawah, sungai, langgar, kitab, dan masyarakatnya.
Barangkali itulah sebabnya saya pulang dengan perasaan yang berbeda. Kami memang datang membawa buku. Tetapi justru kami pulang membawa pelajaran. Kami datang hendak berbicara tentang literasi. Namun yang kami temukan adalah teladan tentang bagaimana ilmu dijalani dengan rendah hati.
