Meskipun pengaruhnya secara keseluruhan tidak besar, siswa yang memiliki growth mindset cenderung lebih gigih menghadapi tantangan, lebih terbuka terhadap umpan balik, dan lebih termotivasi untuk terus belajar dibandingkan mereka yang memiliki fixed mindset.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan awal, tetapi juga oleh cara seseorang memandang proses belajar itu sendiri.

Namun demikian, penelitian yang lebih baru juga mengingatkan bahwa growth mindset bukanlah solusi instan. Meta-analisis yang diterbitkan pada tahun 2023 menunjukkan bahwa program pelatihan growth mindset tidak selalu meningkatkan nilai akademik secara signifikan pada semua peserta didik.
Dampaknya cenderung lebih terasa ketika didukung oleh strategi belajar yang efektif, lingkungan yang positif, serta bimbingan guru. Dengan kata lain, pola pikir berkembang perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar keyakinan bahwa “suatu hari nanti saya pasti bisa.”
Temuan tersebut sangat relevan dengan kehidupan di pondok pesantren. Menjadi santri berarti menjalani proses belajar yang panjang. Menghafal Al-Qur’an tidak selesai dalam hitungan hari. Memahami kitab kuning membutuhkan kesabaran dan latihan bertahun-tahun. Menguasai bahasa Arab atau bahasa Inggris juga memerlukan latihan yang terus-menerus. Tidak ada keberhasilan yang diperoleh secara instan.
Budaya pesantren sesungguhnya telah lama menerapkan prinsip-prinsip yang sejalan dengan growth mindset. Tradisi murojaah, misalnya, mengajarkan bahwa hafalan akan kuat jika terus diulang. Santri juga terbiasa menerima koreksi dari ustaz atau kiai tanpa menganggapnya sebagai penghinaan.
Sebaliknya, koreksi dipandang sebagai bagian penting dari proses memperbaiki diri. Dalam perspektif psikologi pendidikan, kemampuan menerima umpan balik (feedback) merupakan salah satu ciri pembelajar yang memiliki growth mindset.
Selain itu, kehidupan pesantren membentuk kebiasaan untuk tidak mudah menyerah. Ketika belum mampu memahami pelajaran, santri didorong untuk bertanya kepada guru, berdiskusi dengan teman, atau mengulang kembali materi hingga benar-benar dipahami. Lingkungan seperti ini membantu santri menyadari bahwa keberhasilan lahir dari proses yang dijalani secara konsisten, bukan semata-mata dari bakat.
