Prinsip tersebut juga selaras dengan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan memerlukan ikhtiar. Dalam konteks pendidikan, kemampuan berkembang tidak hanya bergantung pada potensi yang dimiliki, tetapi juga pada kemauan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Rasulullah saw. juga bersabda: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan penghargaan yang tinggi kepada proses menuntut ilmu. Tidak ada syarat bahwa seseorang harus menjadi yang paling pintar terlebih dahulu. Yang ditekankan adalah kesungguhan dalam menempuh jalan ilmu. Semangat inilah yang menjadi inti dari growth mindset.
Meski demikian, memiliki growth mindset bukan berarti mengabaikan pentingnya strategi belajar. Santri tetap memerlukan manajemen waktu, metode belajar yang sesuai, istirahat yang cukup, serta dukungan dari guru dan teman. Oleh karena itu, lingkungan pesantren memiliki peran penting dalam membantu santri membangun pola pikir berkembang melalui budaya disiplin, kebersamaan, dan pembiasaan belajar setiap hari.
Di tengah persaingan akademik yang semakin ketat, pola pikir berkembang menjadi bekal yang sangat dibutuhkan. Santri yang percaya bahwa kemampuan dapat diasah akan lebih berani mencoba, tidak takut melakukan kesalahan, dan menjadikan kegagalan sebagai pengalaman belajar. Sebaliknya, mereka yang menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang tetap cenderung mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
Pada akhirnya, menjadi santri bukanlah tentang siapa yang paling cepat memahami pelajaran atau paling banyak menghafal. Menjadi santri adalah tentang kesediaan untuk terus bertumbuh. Growth mindset mengajarkan bahwa setiap langkah kecil dalam belajar memiliki makna. Setiap hafalan yang diulang, setiap kitab yang dibaca, setiap koreksi yang diterima, dan setiap kegagalan yang dihadapi merupakan bagian dari perjalanan menuju ilmu yang lebih luas. Sebab, dalam tradisi Islam, keberhasilan tidak hanya diukur dari hasil yang dicapai, tetapi juga dari kesungguhan dalam menempuh proses menuntut ilmu.
