Gus Miftah dan Berdakwah di Tempat Maksiat

Artinya, bahwa dakwah yang disampaikan oleh seseorang merupakan sebuah amar makruf nahi munkar yang menjadi kewajiban bagi setiap individu. Sementara, hidayah, keimanan, dan ketakwaan merupakan hak Allah swt disertai dengan ikhtiar dari masing-masing individu.

Tidak sedikit para pelaku maksiat yang kemudian sadar karena dakwah yang dibawakan oleh Gus Miftah. Bagi Gus Miftah itu sebuah kebanggaan, meskipun Beliau tidak merasa lebih baik dari pendakwah-pendakwah lainnya. Sekadar berusaha, berdoa, agar mereka diberi kesadaran dan kembali ke jalan yang telah ditunjukkan oleh Alla swt dan Rasulullah saw.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak Putus Berharap

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’ Sesungguhnya Allah swt mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).

Sebesar apa pun dosa yang kita miliki, Rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa-dosa yang telah kita lakukan. Itu artinya kita tidak boleh berputus asa atas kasih sayang Tuhan. Karena, kasih sayang Allah diberikan kepada mereka ingin bertobat. Seorang pendosa yang bertobat jauh lebih baik dari seorang ‘alim yang tersesat. Kalau dalam bahasa Gus Miftah, “Pada akhirnya surga akan ditempati oleh ahli maksiat yang bertobat, bukan ahli ibadah yang merasa lebih baik tetapi kenyataannya tersesat.”

Terakhir apa yang dapat penulis dapatkan dari bincang Gus Miftah dengan Andy F Noya, pendakwah yang nyentrik ini mengatakan dalam sebuah kalimat metafor, “Mengapa kaca depan mobil lebih besar daripada kaca spion? Karena harapan masa depan kita jauh lebih besar daripada masa yang telah lalu.”

Tinggalkan Balasan