Hakikat Tubuh Manusia: Kajian Ontologis Barat dan Islam

Ontologi Barat (Material-Mekanistik)

Tubuh dipandang sebagai makhluk hidup biologis bagai mesin hidup, terdiri dari sel, organ, dan sistem yang dapat diukur. Pendekatan ini berakar pada positivisme Descartes, di mana tubuh adalah res extensa (substansi berekstensi), terpisah dari jiwa. Dalam farmasi, ini menghasilkan fokus pada zat kimia obat yang menargetkan reseptor biologis, mengabaikan dimensi moral (Rosyada, 2016).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ontologi Islam (Jasad-Ruh-Akal)

Islam memandang tubuh sebagai ayat kauniyah yang mencerminkan kebesaran Allah (QS. Al-Mu’minun: 12-14). Tubuh bukan sekadar materi, melainkan kesatuan jasad (fisik), ruh (spiritual), dan akal (intelektual), (Al-Attas et al., 1986). Objek ilmu farmasi menjadi amanah ilahi, di mana pengobatan harus selaras dengan fitrah manusia.

Perbandingan ini menunjukkan ontologi Barat cenderung merendahkan kedudukan tubuh manusia, sementara Islam bersifat integratif, mempengaruhi etika farmasi dari produksi obat hingga pemberiannya kepada pasien.

Sumber dan Objek Ilmu dalam Islam

Dalam Islam, ilmu farmasi dan kesehatan bersumber dari tiga ayat utama, sebagaimana dianalisis Quraish Shihab (1996) dalam Wawasan Al-Qur’an. Secara ayat Qauliyah (Wahyu), Al-Qur’an memberikan nilai dan etika, seperti QS. Al-Baqarah: 195 yang memerintahkan pengobatan tanpa mudarat. Ini membatasi penggunaan obat, mencegah eksploitasi tubuh pasien demi profit farmasi. Ayat Kauniyah (Alam) memandang bahwa tubuh adalah manifestasi alam, dengan reaksi biologis obat sebagai tanda kekuasaan Allah (QS. Fussilat: 53). Farmasi mempelajari bahan alami seperti madu (QS. An-Nahl: 69) sebagai obat holistik, bukan sintetik semata. Ayat Insaniyah (Manusia/Sosial) menganggap tubuh pasien adalah entitas sosial, dipengaruhi secara individu dan masyarakat. Penyakit bukan hanya biologis, tetapi merupakan salah satu dari ujian ruhani (QS. Al-Baqarah: 155), sehingga terapi farmasi harus empati, bukan seperti jual beli. Integrasi ketiganya menjadikan tubuh sebagai objek ilmu yang sakral, di mana apoteker bertanggung jawab atas keselamatan jasmani dan rohani pasien (Shihab, 1996).

Peran Indera, Akal, dan Intuisi

Tinggalkan Balasan