Santri yang mempelajari kitab kuning perlu menguasai bahasa Indonesia, sebagaimana pelajar ushul fikih wajib memahami ilmu alat (nahu dan saraf).
Dalam sebuah perkuliahan ushul fikih, dosen kami memaparkan pandangan menarik tentang bagaimana seorang pelajar bahasa Arab atau kitab kuning seharusnya memiliki kepekaan dan penguasaan yang baik terhadap bahasa Indonesia. Juga dijelaskan betapa dekatnya ilmu nahu, sebagai rambu-rambu bahasa Arab, dengan ilmu ushul fikih.

Awalnya, dosen kami menyodorkan beberapa pertanyaan seputar materi ushul fikih yang sudah kami pelajari sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan ini bertujuan menguji dan mengukur seberapa jauh ingatan serta pemahaman kami terhadap materi yang telah berlalu.
Dengan sangat lihai, dosen kami mengulas detail jawaban yang kami sampaikan. Diperlihatkan bahwa pemahaman yang selama ini kami yakini benar, ternyata masih menyisakan celah kekeliruan.
Sejurus kemudian, dosen ini membagikan pengalamannya saat menjadi penguji ujian lisan Penerimaan Mahasantri Baru (PMB) di Ma’had Aly Situbondo. Saat itu, ada seorang peserta yang kebingungan ketika ditanya seputar kedudukan kalimat (i’rab) dalam teks kitab Fath al-Qarib. Peserta tersebut bukannya tidak menjawab, melainkan jawabannya keliru akibat salah mengidentifikasi kedudukan “kalimat” bahasa arab.
Dosen kami menyimpulkan bahwa kekeliruan tersebut sebenarnya berakar dari kurangnya kepekaan terhadap bahasa Indonesia. Ditegaskan, “Bagaimana bisa seorang pelajar bahasa Arab atau kitab kuning mampu mengidentifikasi kedudukan kata dalam upaya memahami teks, sementara ia tidak memiliki kepekaan bahasa Indonesia yang baik?”
Struktur dasar dalam bahasa Indonesia, yakni SPOK (Subjek, Predikat, Objek, Keterangan), memegang peran penting dalam membentuk kemampuan memahami teks Arab atau kitab turats secara benar. Dicontohkan bahwa dalam sebuah struktur kalimat, objek sah-sah saja tidak disebutkan secara eksplisit. Namun, kita bisa langsung mendeteksi keberadaan atau kebutuhan akan objek tersebut ketika disandingkan dengan predikat berupa kata kerja transitif (aktif-transitif).
Mari kita lihat contoh: “Alex memukul Andrie.” Pada contoh kalimat aktif ini, objeknya adalah Andrie. Jika struktur ini diubah menjadi kalimat pasif, bunyinya menjadi: “Andrie dipukul oleh Alex.” Perubahan ini membuktikan bahwa kata kerja “memukul” memang membutuhkan objek.
