Tiba-ttiba aku terkejut, Mas Arjun masuk rumah dengan badan yang basah kuyup sebab di luar memang hujan deras. Kuhampiri dan kutanyakan apa yang terjadi. Tapi Mas Arjun tidak menjawab pertanyaanku dengan tepat. Dia malah terkekeh sampai terbahak-bahak di hadapanku. Bau menyengat dari mulutnya mulai tercium oleh hidungku. Sangat tidak enak dan menusuk. Firasatku mulai tidak baik. Mas Arjun semakin tidak terkendali. Dan di sore itu, sore yang sangat kubenci seumur hidupku, semuanya terjadi. Aku membenci Mas Arjun.
Aku terdiam, sebab masih teringat mimpi dalam tidurku sepanjang bakda isya sampai tengah malam tadi. Mimpi yang di dalamya kudapati bocah lelaki mungil, imut sekali. Bocah itu menuntunku masuk dalam ruangan yang entah di mana, tempat yang sangat asing. Ruangan yang seperti tidak ada ujungnya, terang, sejuk, indah sekali. Kudapati kenyamanan dan ketentraman saat berada di sana.

Kemudian bocah mungil itu membawaku menuju sebuah pintu yang kurasa itu terbuat dari anyaman rotan diselingi bambu hitam dan dibuat berkilauan. Dengan berdebar aku raih gagang pintu itu dan perlahan aku membukanya. Di sana terdapat sungai yang mengalir amat tenang dan sesekali muncul ikan-ikan kecil. Jernih sekali airnya. Aku celupkan kedua kakiku ke dalam sejuknya air sambil terduduk di atas batu besar. Tampak senyum merekah di wajah bocah lelaki kecil itu.
Kemudian seseorang menepuk bahuku, “Langit tidak pernah marah saat hujan memilih pergi, hujan tidak pernah meminta untuk jatuh basahi bumi, bumi tidak pernah tahu jika hujan akan kembali. Seperti apa yang telah ditetapkan Tuhan, semuanya hanya memainkan peran. Teruslah mainkan peranmu, kau hebat karena terpilih”, demikian orang itu berkata padaku. Lalu sedetik berikutnya aku terbangun, mendapati perutku mual sekali.
Sepanjang pagi ini air mataku tak kunjung berhenti menetes, sepanjang hari tepatnya. Sampai suara merdu yang amat kukenali memanggil namaku seraya membuka gagang pintu kamar. “Wilis, ayo makan dulu sayang. Mas sudah buatkan sarapan, susunya jangan lupa diminum ya.”
Benar, itu suara suamiku, Mas Arjun, ayah dari japang bayi yang ada dalam rahimku. Aku sangat membencinya. Aku tidak peduli lagi padanya. Tidak lagi mengaguminya. Tidak lagi ingin memilikinya. Aku tidak mau makan masakannya. Aku diam dan tidak beranjak sedikit pun —dia memahami itu.
Memang semua yang sudah terjadi adalah bagian dari ketidaksengajaan. Apa benar tidak sengaja?
