Menyelami Manuskrip Warisan Ulama Nusantara
Nama Mbah Rian dikenal di kalangan peneliti manuskrip Islam karena konsistensinya menghidupkan kembali karya-karya ulama terdahulu. Kesederhanaan hidup tidak menyebabkan batasan yang tidak bisa ditembus. Bahkan dengan kehidupan yang sedemikian, Mbah Rian membuktikan kepada khalayak sebagai peneliti yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Mbah Rian tercatat telah melakukan penyuntingan kritis lebih dari 100 manuskrip kuno dan menghasilkan sedikitnya lima kitab tahqiq. Salah satu karya pentingnya adalah tahqiq terhadap Kitab Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari. Selain itu, ia juga menyunting karya monumental Tahrir karya Syekhul Islam Zakariya al-Anshari. Dan masih banyak lagi kajian dan catatan Mbah Rian terhadap naskah kitab klasik lainnya.
Bidang kajiannya meliputi fikih, hadis, ushul fikih, bahasa Arab, hingga tasawuf. Karya-karyanya menjadi referensi bagi kalangan akademisi, peneliti, dan ulama di berbagai negara.
Di dunia akademik Islam, Mbah Rian menggunakan nama pena Ibnu Hardjo al-Jawi. Penyematan “al-Jawi” mencerminkan identitas intelektual ulama Nusantara dalam tradisi keilmuan Islam klasik, sekaligus menjadi simbol keterikatannya dengan khazanah keilmuan Islam di wilayah Melayu-Nusantara.
Pilihan tersebut sekaligus menunjukkan komitmennya untuk melanjutkan mata rantai tradisi ulama Nusantara yang selama berabad-abad memberi kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu-ilmu keislaman.
