Ilusi Negara Islam; Ekspansi Gerakan Islam Transnasional

Selanjutnya, Gus Dur mengurai bagaimana para pendiri bangsa sadar di dalam pancasila tidak ada prinsip yang bertentangan dengan ajaran agama. Sebaliknya, prinsip dalam Pancasila justru merefleksikan pesan pesan utama semua agama yang dalam ajaran Islam dikenal dengan Maqasid Syariah. Dengan kesadaran demikian, mereka menolak pendirian atau formalisasi agama serta menekankan substansinya. Mereka memposisikan negara sebagai institusi yang mengakui keragaman, mengayomi semua kepentingan dan melindungi segenap keyakinan, budaya dan tradisi bangsa Indonesia. Dengan cara demikian, melalui Pancasila mereka menghadirkan agama sebagai wujud kasih sayang Tuhan bagi seluruh makhluk-Nya dalam arti yang sebenarnya. Dalam konteks ideal Pancasila, setiap orang bisa saling membantu mewujudkan dan meningkatkan kesejahteraan dunia dan setiap orang bebas beribadah untuk meraih kesejahteraan ukhrawi tanpa mengabaikan yang pertama.

Dalam perjalanannya, tegas Gus Dur, terdapat reaksi fluktuatif antara agama (Islam) dengan nasionalisme (Pancasila), ada kelompok yang ingin mendirikan negara Islam melalui jalan konstitusi atau lainnya melalui kekuatan senjata. Namun, mayoritas bangsa Indonesia baik muslim atau nonmuslim tetap setia mendukung para pendiri bangsa untuk tetap setia kepada Pancasila sebagai bentuk final yang mengikat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tak pelak, respons atas komitmen untuk tetap setia kepada Pancasila menimbulkan reaksi berbeda. Misalnya, sikap serupa tidak tampak pada beberapa ormas maupun parpol yang bermunculan menjelang dan setelah berakhirnya kekuatan Orde Baru. Mereka mengingatkan kita kepada Darul Islam ( DI ) karena mereka berusaha mengubah negara bangsa menjadi negara agama dengan mengganti ideologi negara Pancasila dengan Islam versi mereka atau bahkan menghilangkan NKRI dan menggantinya dengan sistem khilafah Islmaiyah. (Lihat hal, 18)

Tidak heran, jika kita membaca laporan tahunan The Wahid Institute 2008 berjudul Pluralisme Beragama/Berkeyakinan di Indonesia menjelaskan bahwa keberadaan organisasi maupun kelompok garis keras di Indonesia dipengaruhi sedikit banyak gerakan Islam Transnasional dari Timur Tengah terutama kelompok yang berpaham Wahabi atau Ikhwanul Muslimin atau gabungan dari keduanya. Kelompok garis keras di Indonesia termasuk juga dalam gerakan politiknya menyimpan sejuta agenda yang berbeda dengan ormas Islam moderat seperti Muhammadiyah dan NU atau partai berhaluan kebangsaan. Anehnya, akhir akhir ini, kelompok garis keras telah berhasil mengubah wajah Islam Indonesia mulai menjadi agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian. Padahal selama ini, islam Indonesia terkenal dengan lembut, toleran, dan penuh perdamaian, bahkan majalah internasional Newsweek pernah menyebut islam Indonesia sebagai Islam With A Smiling Face. ( Lihat hal, 20)

Tidak kalah penting, buku yang diberi komentar oleh KH Mustofa Bisri ini mengurai tentang studi gerakan Islam transnasional dan kaki tangannya di Indonesia. Meliputi bagaimana dasar pemikiran penelitian, subjek penelitian yang mencakup asal usul ideologi, hidden agenda, gerakan, agen-agen gerakan Islam di Indonesia yang identik sebagai kelompok garis keras, strategi yang digunakan serta infiltrasi yang ditanamkan kapada masyarakat atau kelompok Islam lainnya.

Tinggalkan Balasan