Islam Translated: Bagaimanakah Islam Diterjemahkan?

Buku Islam Translated yang ditulis oleh Ronit Ricci ini menghadirkan bentangan sejarah yang bersumber dari hikayat Melayu. Lewat sumber hikayat ini pula kita bisa melihat kembali kondisi dan dinamika masyarakat di masa itu (sekitar abad ke-16) yang rupa-rupannya sudah kosmopolis.

Sebagaimana keterangan sejarawan lain seperti Antony Reid, dalam karyanya “Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680; Tanah di Bawah Angin” mengemukakan bahwa hingga abad ke-16, Malaka (semenanjung Melayu) menjadi daerah paling urban, dan memiliki penduduk kota yang paling padat di dunia. Malaka yang merupakan selat yang mempertemukan jalur perdagangan dunia timur dan barat, sudah terkelo dan didominasi oleh masyarakat kosmopolis Arab, sebelum di paruh kedua abad itu mengalami kekalahan dan dipukul mundur oleh Portugis. Meski demikian, dalam pengakuan Portugis, ia tidak bisa menciptakan pengelolaan komunitas dagang kosmopolit yang serupa ketika selat itu sudah diambil alih oleh Portugis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Abdullah bin Salamadalah tokoh utama dalam isi naskah hikayat Melayu di abad ke-16. Dalam buku ini ia banyak dikatakan beruntung karena menjadi generasi terakhir yang, selain mengalami secara langsung dengan kehidupan nabi, juga menjadi seorang mualaf.

Dengan alasan dan latar belakang demikian, riwayat hidupnya kemudian dijadikan potret dalam sebuah cerita hikayat yang diharapkan dapat menggugah akan akhir periode hidupnya memeluk Islam. Namun uniknya, hikayat tersebut tidak hadir di tanah jazirah Arab tempat kelahiran nabi, namun justru hidup dan menjadi legenda di Kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Maka, Islam itu kemudian menjadi benar-benar bisa meresap dan diterjemahkan sesuai dengan ragam kebudayaan masyarakatnya.

Di dunia Melayu, selain bahasanya yang paling banyak menyerap bahasa Islam beserta penggunaannya, ia menjadi bahasa pertama di Asia Tenggara yang banyak menerjemahkan naskah-naskah bahasa Arab dan Farsi. Kemudian naskah-naskah ini diterjemahkan kembali ke dalam bentuk yang telah ada, yaitu berupa hikayat.

Sampai di tahap ini, bahasa Melayu yang merupakan bahasa perdagangan beriring dengan kerja penerjemahan berbahasa arab yang di masa itu menjadi bahasa kosmopolis di jalur komunitas perdagangan. Kemudian, kerja penerjemahan tersebut tidak lantas meninggalkan warisan lama, hikayat yang merupakan peninggalan lama pra-Islam tetap digunakan dan menjadi medium penerjemahan pada cerita Islam. Dengan demikian, masyarakat yang hidup dalam tradisi itu tertransformasikan pada Islam.

Sementara dalam tradisi Jawa, Hikayat Seribu Pertanyaan dikenal dengan sebutan Kitab Samud yang bercerita tentang kesinambungan dan perubahan. Ia masuk lebih belakangan, yaitu abad ke-19. Hikayat ini masuk ke Jawa seiring oleh pengaruh yang membawanya, yaitu tarekat Syattariyah. Karena di abad ke-16 hingga abad ke-18, tarekat Syattariyah memiliki pengaruh yang luas dan cukup populer.

Hal tersebut berdasar karena tarekat ini lekat dengan ajaran wujudiyah (sebagaimana Hamzah Fansuri), juga karena ajaran-ajarannya yang spekulatif dan lebih sesuai dengan penggunaan seni Jawa yang menggunakan kiasan-kiasan.

Di Jawa, Hikayat Seribu Pertanyaan beralih bentuk menjadi tembang bernama Soeloek Syeh Ngabdoessalam yang tetap tidak bisa dilepaskan dari pengaruh awal tarekat yang membawanya. Meskipun bila kita lihat lagi, di paro kedua abad ke-18 hingga sekarang, tarekat Syattariyah telah meredup dan tergeser dengan tarekat Naqsabandiyah dan Qoddiriyah yang lebih mengedepankan hukum Islam formatif.

Tinggalkan Balasan