Inti keseluruhan dari naskah Hikayat Seribu Pertanyaan yang diteliti dalam buku ini adalah perihal penerjemahan Islam. Penerjemahan yang dimaksud bukan sebatas dari teks ke teks, namun dari teks (pasca sepeninggal nabi) ke sesuatu yang mewujud hidup (usaha penghadiran nabi itu sendiri) di masyarakat. Dengan demikian, tranmisi ilmu dalam teks-teks tersebut harus diupayakan dalam praktik hidup berkebudayaan. Hal ini tentu akan menjadi berbeda (secara lahiriah) akan penerjemahan Islam.
Namun justru demikian, Islam sebagai rahmat berfungsi dengan semestinya. Ia tida kemudian merusak ragam kultur yang telah ada, karena sebagaimana kita tahu (dalam keterangan Al-Qur’an), bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta, ia melingkupi semua batas-batas identitas yang terangkum oleh kebudayaannya yang berbeda-beda.

Bersamaan dengan itu, Islam (Al-Qur’an) di peruntukan bagi manusia. Dengan demikian, ia harus diterjemahkan ke dalam bahasa dan rangkum kebudayaan yang berbeda-beda itu agar bisa dimengerti secara utuh. Sehingga, kalam-kalam langit Al-Qur’an (Islam) bisa hadir di bumi dan aktual dalam kehidupan manusia.
Dengan demikian, bagi saya, di periode abad ke-16 yang telah dipotret oleh para sejarawan, telah tercipta sebuah kehidupan yang kosmopolis, dan Islam bersemai seturut dengan laju zamannya untuk memberikan rahmat.
Artinya, di rentang waktu hingga abad ke-16 itu, dengan ditulisnya Hikayat Seribu Pertanyaan sebagaimana telah diteliti dalam buku ini, kita bisa melihat para cendekia dan penyebar Islam telah berhasil dalam menerjemahkan Islam seturut dengan corak kebudayaan dan laju zamannya masing-masing.
Pertanyaannya, tinggal bagaimanakah kita sebagai generasi yang mewarisi khazanah itu menafsir dan menerjemahkannya kembali untuk kini dan generasi yang akan datang?
Tabik.
Data Buku
Judul: Islam Translated (Soft Cover)
Penulis: Ronit Ricci
Alih Bahasa : Toenggoel P. Siagian
Penerbit: Suara Harapan Bangsa
Cetakan Pertama : Desember 2017
ISBN : 978-602-9226-843
