Kritik orientalis terhadap narasi kelahiran Nabi juga terkait erat dengan persoalan metodologi sejarah. Sebagian besar orientalis meragukan validitas sirah Ibn Ishaq, yang merupakan sumber utama biografi Nabi.
Mereka menekankan bahwa Ibn Ishaq hidup lebih dari satu abad setelah kelahiran Nabi, sehingga informasi yang disusunnya sangat mungkin sudah bercampur dengan legenda dan interpretasi teologis. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa Ibn Hisham, yang mengedit karya Ibn Ishaq, secara sadar menghilangkan bagian-bagian yang dianggap “tidak pantas” atau tidak sesuai dengan keyakinannya. Bagi orientalis, kondisi ini membuat narasi kelahiran Nabi sulit diperlakukan sebagai dokumen sejarah murni.

Dalam konteks inilah muncul karya Muhammad Mohar Ali, seorang sarjana Muslim yang menulis Sirat al-Nabi and the Orientalists sebagai jawaban terhadap pandangan skeptis orientalis. Ali berusaha menunjukkan bahwa meskipun sumber sirah memang memiliki keterbatasan, hal itu tidak berarti seluruh narasi kelahiran harus ditolak. Ia menekankan bahwa tradisi Islam memiliki mekanisme transmisi yang ketat, termasuk isnad dalam hadith, yang membedakannya dari sekadar legenda populer. Dengan demikian, narasi kelahiran Nabi Muhammad tetap memiliki nilai sejarah, meskipun harus dipahami juga dengan pendekatan simbolis.
Narasi kelahiran Nabi Muhammad dalam konstruksi pemikiran orientalis pada akhirnya mencerminkan benturan dua paradigma: paradigma religius yang melihat mukjizat sebagai realitas spiritual, dan paradigma kritis yang menilainya sebagai konstruksi literer. Para orientalis berusaha membongkar mitos untuk mencari “Muhammad historis,” sementara umat Muslim mempertahankan narasi mukjizat sebagai bagian integral dari iman.
Namun, menariknya, meskipun orientalis banyak menolak kisah-kisah mukjizat, mereka tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dari seorang anak yang lahir di Mekkah pada tahun 570 M itu, muncul figur yang mengubah wajah dunia, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun politik.
Narasi kelahiran Nabi Muhammad dalam pemikiran orientalis lebih banyak ditempatkan sebagai teks simbolis ketimbang fakta sejarah literal. Para orientalis seperti Geiger, Muir, Margoliouth, Watt, dan Guillaume menampilkan variasi interpretasi mulai dari reduksi radikal hingga pengakuan parsial terhadap keagungan Nabi. Kritik mereka sering kali menyoroti persoalan metodologi, pengaruh agama-agama sebelumnya, dan peran komunitas dalam membentuk narasi.
Namun, terlepas dari semua skeptisisme itu, kelahiran Nabi Muhammad tetap diakui sebagai titik awal dari sebuah transformasi besar dalam sejarah umat manusia. Narasi mukjizat mungkin diperdebatkan, tetapi dampak kelahiran itu sendiri tidak dapat disangkal.
