Dari prinsip dasar ini, busana muslim bisa mengambil banyak wajah. Di sebagian wilayah Afrika, pakaian longgar dengan warna-warna mencolok menjadi simbol kesalehan. Di Asia Tenggara, sarung dan batik menjadi penanda identitas Islam lokal. Di Timur Tengah, jubah putih lazim dipakai sebagai representasi kesederhanaan. Bahkan di ruang-ruang modern perkotaan, jas atau jeans tidak kehilangan keabsahannya selama prinsip-prinsip tadi tetap terjaga. Fleksibilitas ini bukan sekadar kebetulan, melainkan ciri khas Islam yang mampu beradaptasi dengan konteks lokal.
Masalah muncul ketika model pakaian tertentu dijadikan sebagai tolok ukur kesalehan. Seolah-olah kesucian iman hanya bisa diukur dari panjangnya jubah, lebar kerudung, atau model gamis yang dikenakan. Pandangan semacam ini, selain menyempitkan makna agama, juga menutup pintu universalitas Islam itu sendiri. Kita lupa bahwa Islam datang bukan untuk mengubah manusia menjadi seragam, melainkan untuk memberi kerangka nilai yang bisa diterapkan di mana saja.

