Budaya duduk lesehan, bagi sebagian generasi muda, barangkali terdengar sebagai kebiasaan yang mulai terpinggirkan—sesuatu yang tak lagi akrab di tengah ruang-ruang modern yang serba kursi dan jarak. Namun bagi generasi-generasi sebelumnya, lesehan justru menjadi bahasa kebudayaan yang paling jujur tentang kebersamaan. Ia meniadakan hierarki, merapatkan tubuh-tubuh dalam satu bidang yang sama: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Dalam lesehan, percakapan tak mencari panggung, dan keakraban tumbuh tanpa perlu diumumkan.
