Ketika Emak-emak Berhadrah, Gen-Z yang “Ngemsi”

Para undangan tampak larut dalam alunan tersebut. Kepala menunduk, bibir bergetar mengikuti syair, sebagian mata terpejam menahan haru. Dalam ritme hadrah itu, kerinduan dipelihara dan cinta diteguhkan. Hingga tiba mahallul qiyam, seluruh ruang berdiri seolah menyambut Rasulullah dengan khidmat—dengan tubuh yang tegak dan hati yang merendah—sebagai tanda hormat, rindu, dan pengakuan atas cahaya teladan yang terus hidup di tengah umat.

Senandung selawat menyebar ke seluruh ruang, memantul di dinding-dinding kecil. Emak-emak Hadrah Banjari Assalam tidak sekadar tampil—mereka menghadirkan diri sepenuhnya, mengisi ruang dengan kehadiran, pengalaman, dan ingatan kolektif yang telah lama dirawat dalam tradisi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Usai hadrah, Nayla Authar dan Kayla Nareswari kembali mengambil alih peran sebagai pembawa acara. Keduanya berdiri sejenak, lalu memilih kembali duduk lesehan bersama audiens. Tidak ada jarak mencolok antara pemandu dan peserta. Semua berada pada posisi yang sama, sejajar, dan saling menyimak.

Sebagai siswi dan mahasiswa, Kayla dan Nayla memandu rangkaian acara panjang dengan ketenangan yang terjaga. Dalam posisi lesehan yang cair, tantangan justru terasa lebih besar: suara harus tetap jelas, alur acara harus terpelihara, dan perhatian audiens harus dirawat tanpa bantuan formalitas panggung. Namun Nayla dan Kayla mampu mengelola semua itu dengan baik. Mereka berbicara dengan artikulasi yang bersih, pilihan kata yang tepat, serta intonasi yang menyesuaikan suasana. Mereka tahu kapan harus berdiri, kapan kembali duduk, dan kapan memberi jeda agar ruang tetap bernapas dan tidak sesak oleh kata-kata.

Interaksi Nayla dan Kayla dengan emak-emak Hadrah Banjari Assalam terasa alami sejak awal. Tidak ada bahasa yang meninggi, tidak pula sikap yang merendah secara berlebihan. Dalam posisi duduk bersama di lantai, percakapan tumbuh secara setara dan saling menghormati.

Budaya lesehan itu membantu menjembatani jarak generasi. Dalam ruang yang sama rendah itu, Gen-Z dan emak-emak saling menatap tanpa rasa sungkan. Nayla dan Kayla menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus berdiri lebih tinggi—kadang justru menjadi efektif ketika seseorang memilih duduk sejajar, mendengar, dan merespons dengan tenang.

Dalam ruang lesehan yang telah lebih dulu dipenuhi irama selawat dan keheningan yang khidmat, orasi santri yang disampaikan oleh sastrawan Jamal D. Rahman hadir sebagai penanda penting arah perbincangan malam itu.

Orasi tersebut menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana tradisi pesantren, khususnya konsep sanad, berdialektika dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra santri di era modern dan digital. Jamal tidak memosisikan sanad semata sebagai rantai formal guru–murid, melainkan sebagai kesadaran epistemologis, ontologis, dan etis yang menuntut tanggung jawab moral atas setiap pengetahuan dan karya kreatif yang dihasilkan.

Dengan gaya oratoris yang puitis sekaligus argumentatif, ia menunjukkan bahwa pesantren adalah tradisi hidup yang terus bergerak, mampu bertransformasi tanpa kehilangan akar spiritual dan adab keilmuannya. Sanad, dalam pandangan Jamal, menjadi kompas batin agar kebebasan berpikir dan imajinasi sastra tidak tercerabut dari asal-usulnya, sekaligus menjadi kritik halus atas klaim orisinalitas kosong dan pragmatisme akademik, serta seruan agar santri memaknai “bersanad” sebagai sikap hidup yang sadar asal-usul, jujur dalam metode, dan bertanggung jawab atas makna yang disebarkan.

Tinggalkan Balasan