Setelah orasi budaya santri tersebut, ruang lesehan kembali berdenyut oleh percakapan yang lebih dialogis. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi buku dan sesi testimoni yang tetap berlangsung sebagaimana mestinya.
Hadir sebagai narasumber dalam diskusi buku ini adalah Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Prof. Dr. Rumadi Ahmad, M.A., Dr. Ngatawi Al-Zastrow, Dr. Neng Dara Affiah, dan Dr. Ahmad Suaedy. Tokoh-tokoh dan narasumber tersebut hadir memberi isi, konteks, serta refleksi yang berlapis, baik dari sudut pandang akademik, sosial, kultural, maupun pengalaman praksis di ruang publik dan masyarakat sipil.

Namun suasana lesehan membuat semua percakapan terasa lebih dekat dan lebih manusiawi. Para narasumber tidak hanya menyampaikan gagasan konseptual, tetapi juga membuka ruang dialog yang hidup, memungkinkan pertukaran pandangan berlangsung tanpa sekat formal, tanpa podium tinggi, dan tanpa jarak yang dingin dan kaku, sehingga diskusi berkembang sebagai percakapan bersama yang saling menyimak dan saling belajar.
Seusai orasi santri, Nayla dan Kayla kembali tampil memanggil pembaca puisi. Sarah Monica, seorang penyair dan peneliti budaya, maju membacakan puisi karya Nizar Qabbani. Sarah, yang kumpulan puisinya Bangkitnya Kemurungan mendapat penghargaan dari Badan Bahasa, malam itu tampil dengan suara lirih, seakan mewakili jerit pilu Palestina yang disuarakan oleh penyair kenamaan tersebut.
Selain Sarah, penyair Willy Ana, Shantined, dan Gilang Eka Sulaeman turut tampil membaca puisi. Ketiganya menambah lapisan suasana, membuat acara Tumpengan dan Diskusi Buku dalam rangka “Menyambut Tujuh Tahun JDS” terasa semakin hidup dan berdenyut.
Sepanjang acara, hujan yang sejak sore dikhawatirkan tak juga turun. Hingga tepat pukul 21.48 WIB, menjelang doa tumpengan dilantunkan, hujan deras tiba-tiba jatuh dari langit. Ajaib, sekalipun hujan turun dengan lebat, tidak ada yang berdiri terburu-buru. Semua tetap duduk lesehan, merapat dalam satu titik. Tikar menjadi ruang bersama. Tumpeng diletakkan di tengah. Doa tetap dibacakan, bersahut dengan suara hujan yang kini menjadi latar alami.
Dalam posisi duduk di lantai, makan tumpeng terasa lebih intim. Tangan saling berbagi. Piring berpindah dari satu orang ke orang lain. Tawa-tawa kecil muncul di sela hujan yang semakin rapat. Hujan tidak membubarkan acara—ia justru mengunci kehangatan yang telah terbangun sejak awal.
Malam itu, perayaan ditutup bukan dengan kemegahan, melainkan dengan kebersamaan. Budaya lesehan menjadi lebih dari sekadar cara duduk. Ia menjelma sebagai etika sosial: merendahkan tubuh untuk meninggikan perjumpaan.
Di ruang kecil bengkel kerja JDS, Gen-Z dan emak-emak bekerja bersama. Yang muda mengelola ruang dengan kecakapan dan keluwesan, yang tua menjaga ritme tradisi dengan kesetiaan dan ketekunan. Di tengah cuaca yang tak menentu, lesehan membuat semua terasa dekat, setara, dan hangat.
