Ketika Raja Sudah Tiada, Mengapa Kita Masih Mencari Tuan?

Di tengah riuh ruang digital Indonesia, ada sebuah pemandangan yang terus berulang. Seseorang muncul. Bukan ilmuwan. Bukan pemikir besar. Bukan pula orang dengan rekam jejak akademik yang mengesankan.

Namun dalam waktu singkat, ribuan bahkan jutaan orang mulai mendengarkannya. Mereka membagikan videonya. Membela setiap ucapannya. Mengutip pendapatnya seolah sebuah rujukan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Fenomena ini muncul dalam banyak bentuk. Kadang dalam wujud tokoh agama kontroversial. Kadang dalam bentuk motivator yang menjanjikan kesuksesan instan. Kadang sebagai influencer yang mengaku memiliki jawaban atas masalah hidup. Kadang bahkan sebagai sosok yang berkali-kali terbukti keliru.

Anehnya, kesalahan tidak selalu mengurangi pengaruh mereka. Dalam beberapa kasus, justru memperkuat loyalitas para pengikutnya.

Mengapa hal semacam ini bisa terjadi?

Jawaban yang paling mudah adalah menyalahkan masyarakat. Menganggap publik malas berpikir. Menganggap pengikut tokoh-tokoh tersebut bodoh.

Namun jawaban yang terlalu mudah sering kali justru menjauhkan dari pemahaman. Sebab fenomena yang sama tidak hanya terjadi di Indonesia. Ia muncul di Amerika. Di Eropa. Di Jepang. Di India. Bahkan di era yang berbeda sekalipun. Sejarah manusia selalu dipenuhi oleh figur-figur yang memiliki pengaruh jauh lebih besar daripada kapasitas intelektualnya.

Mungkin masalahnya bukan terletak pada siapa yang diikuti. Mungkin masalahnya terletak pada sesuatu yang lebih mendasar: mengapa manusia selalu membutuhkan seseorang untuk diikuti?

Salah satu kemungkinan jawabannya dapat ditemukan dalam sesuatu yang tampaknya sudah lama mati: feodalisme.

Secara politik, feodalisme memang telah runtuh. Raja kehilangan kekuasaannya. Bangsawan kehilangan hak istimewanya. Masyarakat bergerak menuju demokrasi dan kesetaraan.

Namun pertanyaannya adalah: apakah struktur feodal benar-benar hilang, atau hanya berganti pakaian?

Tinggalkan Balasan