Ketika Raja Sudah Tiada, Mengapa Kita Masih Mencari Tuan?

Pemuda itu tidak sedang mengecek kebenaran klaim tersebut. Ia tidak membuka jurnal atau membandingkan sumber. Ia hanya merasa bahwa untuk pertama kalinya hari itu, ada yang berbicara mewakili kegelisahannya. Dan perasaan diwakili—itulah salah satu kekuatan terbesar yang bisa dimiliki seorang figur publik.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini semata-mata kesalahan sang tokoh? Ataukah ini cermin dari kegagalan institusi-institusi modern dalam memberikan rasa aman yang sama?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dulu, manusia memiliki struktur yang jelas. Agama memberikan jawaban. Komunitas memberikan dukungan. Tradisi memberikan panduan. Namun modernitas, dengan segala pencapaiannya, juga berhasil mengikis banyak dari struktur itu. Orang menjadi lebih bebas, tetapi juga lebih sendiri. Lebih terhubung secara digital, tetapi lebih rapuh secara emosional. Dalam kekosongan itulah figur-figur karismatik menemukan lahannya.

Mereka tidak perlu selalu benar. Mereka hanya perlu hadir. Konsisten. Meyakinkan. Dan yang paling penting: mampu menyederhanakan dunia yang rumit menjadi narasi yang mudah dicerna.

Ini bukan cerita tentang Indonesia. Atau bukan semata-mata tentang Indonesia. Ini cerita tentang manusia modern di mana pun. Hanya saja, setiap tempat memiliki ekspresi lokalnya sendiri.

Di Amerika, fenomena ini muncul dalam bentuk televangelist dan motivator seminar. Di India, dalam wujud guru spiritual dengan jutaan pengikut YouTube. Di Korea, dalam sosok influencer yang mengubah gaya hidup menjadi agama baru. Dan di Indonesia, ia muncul dalam tokoh-tokoh yang akrab kita lihat setiap hari, mulai dari grup WhatsApp keluarga hingga linimasa TikTok. Yang membedakan bukanlah esensinya, melainkan kostum budayanya.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban sederhana. Sama seperti masalahnya yang tidak sederhana. Tetapi satu hal yang pasti: menyalahkan para pengikut tidak akan menyelesaikan apa pun. Mereka bukan korban yang bodoh. Mereka adalah manusia yang mencari pegangan di tengah dunia yang oleng.

Yang mungkin bisa kita lakukan adalah mulai membangun kembali semacam ketahanan nalar. Bukan sekadar literasi digital yang mengajarkan cara membedakan hoaks dan fakta—itu penting, tapi tidak cukup. Melainkan semacam keberanian untuk hidup dalam ketidakpastian. Semacam kesanggupan untuk berkata, “Saya belum tahu,” tanpa merasa kalah. Semacam kekuatan untuk mendengarkan figur tanpa kehilangan daya kritis.

Ini bukan pekerjaan satu generasi. Ini pekerjaan peradaban. Tapi ia bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dari sebuah percakapan di meja makan yang tidak menghakimi. Dari ruang kelas yang tidak hanya mengajarkan jawaban, tapi juga melatih keberanian untuk bertanya. Dari konten-konten digital yang tidak sekadar menggurui, melainkan menemani.

Manusia akan selalu mencari figur. Itu keniscayaan. Tapi kita bisa memilih: menjadi pencari yang pasif, yang menyerahkan seluruh akal pada satu suara; atau menjadi pencari yang aktif, yang menghormati tetapi tetap mempertanyakan, yang mendengarkan tetapi tetap berpikir sendiri.

Tinggalkan Balasan