Sebab meskipun kerajaan telah lenyap, kecenderungan untuk mencari figur yang dianggap lebih tinggi tampaknya tetap bertahan. Bentuknya saja yang berubah. Jika dahulu otoritas lahir dari darah bangsawan, kini ia dapat lahir dari jumlah pengikut. Jika dahulu legitimasi berasal dari silsilah, kini ia dapat berasal dari algoritma.
Mungkin inilah yang dapat disebut sebagai kondisi pascafeodal: sebuah keadaan ketika bangunan feodal telah runtuh, tetapi cara berpikir feodal masih hidup dalam bentuk baru.

Bayangkan seseorang yang sedang lelah menghadapi hidup. Harga kebutuhan naik. Pekerjaan tidak pasti. Informasi datang dari segala arah. Setiap hari menghadirkan pertanyaan baru.
Di tengah kekacauan itu muncul seorang figur yang berbicara dengan penuh keyakinan. Ia memiliki jawaban untuk segala hal. Menjelaskan siapa yang salah. Menjelaskan siapa yang benar. Menawarkan kepastian di tengah kebingungan.
Bagi banyak orang, daya tarik figur semacam itu bukan terletak pada kebenarannya. Melainkan pada rasa aman yang diberikannya. Karena berpikir membutuhkan energi. Meragukan sesuatu membutuhkan keberanian. Sedangkan mempercayai seseorang jauh lebih sederhana.
Dan mungkin di situlah akar persoalannya. Bukan pada kurangnya kecerdasan. Melainkan pada kerinduan manusia terhadap kepastian.
Kerinduan ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum media sosial lahir, para pemikir sudah mencatatnya. Di pertengahan abad ke-20, seorang psikolog bernama Erich Fromm menulis tentang sesuatu yang ia sebut sebagai “ketakutan akan kebebasan”. Menurutnya, kebebasan tidak selalu dirasakan sebagai hadiah.
Bagi banyak orang, kebebasan justru terasa mencemaskan karena ia menuntut tanggung jawab, pilihan, dan konsekuensi. Dalam situasi semacam itu, menyerahkan sebagian kebebasan kepada figur yang tampak kuat bukanlah tindakan bodoh—ia adalah pelarian psikologis yang sangat manusiawi.
Eksperimen Stanley Milgram pada 1960-an menunjukkan hal yang lebih mengejutkan. Orang biasa, dalam kondisi tertentu, bersedia memberikan sengatan listrik yang menyakitkan kepada orang lain hanya karena ada figur berjas putih yang memerintahkannya. Mereka tidak jahat. Mereka hanya tidak sanggup menolak otoritas. Kepatuhan, rupanya, bisa mengalahkan nurani.
Apa yang terjadi di media sosial hari ini adalah versi lunak dari eksperimen-eksperimen itu. Tidak ada sengatan listrik. Tidak ada paksaan fisik. Yang ada hanyalah layar ponsel dan algoritma yang terus-menerus menyajikan konten dari figur yang sama. Semakin sering seseorang menonton, semakin akrab ia merasa. Semakin akrab, semakin sulit untuk bersikap kritis. Kritik terhadap figur itu tidak lagi terasa seperti diskusi. Ia terasa seperti serangan pribadi.
Seorang pemuda di kota kecil membuka ponselnya selepas maghrib. Ia baru saja bertengkar dengan orang tuanya. Masa depannya terasa kabur. Di linimasa muncul seorang tokoh berkata, “Kalian tidak sendiri. Ada sistem yang sengaja membuat kalian menderita. Bangunlah, dan ikuti aku.”
