Di tengah riuh ruang digital Indonesia, ada sebuah pemandangan yang terus berulang. Seseorang muncul. Bukan ilmuwan. Bukan pemikir besar. Bukan pula orang dengan rekam jejak akademik yang mengesankan.
Namun dalam waktu singkat, ribuan bahkan jutaan orang mulai mendengarkannya. Mereka membagikan videonya. Membela setiap ucapannya. Mengutip pendapatnya seolah sebuah rujukan.

Fenomena ini muncul dalam banyak bentuk. Kadang dalam wujud tokoh agama kontroversial. Kadang dalam bentuk motivator yang menjanjikan kesuksesan instan. Kadang sebagai influencer yang mengaku memiliki jawaban atas masalah hidup. Kadang bahkan sebagai sosok yang berkali-kali terbukti keliru.
Anehnya, kesalahan tidak selalu mengurangi pengaruh mereka. Dalam beberapa kasus, justru memperkuat loyalitas para pengikutnya.
Mengapa hal semacam ini bisa terjadi?
Jawaban yang paling mudah adalah menyalahkan masyarakat. Menganggap publik malas berpikir. Menganggap pengikut tokoh-tokoh tersebut bodoh.
Namun jawaban yang terlalu mudah sering kali justru menjauhkan dari pemahaman. Sebab fenomena yang sama tidak hanya terjadi di Indonesia. Ia muncul di Amerika. Di Eropa. Di Jepang. Di India. Bahkan di era yang berbeda sekalipun. Sejarah manusia selalu dipenuhi oleh figur-figur yang memiliki pengaruh jauh lebih besar daripada kapasitas intelektualnya.
Mungkin masalahnya bukan terletak pada siapa yang diikuti. Mungkin masalahnya terletak pada sesuatu yang lebih mendasar: mengapa manusia selalu membutuhkan seseorang untuk diikuti?
Salah satu kemungkinan jawabannya dapat ditemukan dalam sesuatu yang tampaknya sudah lama mati: feodalisme.
Secara politik, feodalisme memang telah runtuh. Raja kehilangan kekuasaannya. Bangsawan kehilangan hak istimewanya. Masyarakat bergerak menuju demokrasi dan kesetaraan.
Namun pertanyaannya adalah: apakah struktur feodal benar-benar hilang, atau hanya berganti pakaian?
Sebab meskipun kerajaan telah lenyap, kecenderungan untuk mencari figur yang dianggap lebih tinggi tampaknya tetap bertahan. Bentuknya saja yang berubah. Jika dahulu otoritas lahir dari darah bangsawan, kini ia dapat lahir dari jumlah pengikut. Jika dahulu legitimasi berasal dari silsilah, kini ia dapat berasal dari algoritma.
Mungkin inilah yang dapat disebut sebagai kondisi pascafeodal: sebuah keadaan ketika bangunan feodal telah runtuh, tetapi cara berpikir feodal masih hidup dalam bentuk baru.
Bayangkan seseorang yang sedang lelah menghadapi hidup. Harga kebutuhan naik. Pekerjaan tidak pasti. Informasi datang dari segala arah. Setiap hari menghadirkan pertanyaan baru.
Di tengah kekacauan itu muncul seorang figur yang berbicara dengan penuh keyakinan. Ia memiliki jawaban untuk segala hal. Menjelaskan siapa yang salah. Menjelaskan siapa yang benar. Menawarkan kepastian di tengah kebingungan.
Bagi banyak orang, daya tarik figur semacam itu bukan terletak pada kebenarannya. Melainkan pada rasa aman yang diberikannya. Karena berpikir membutuhkan energi. Meragukan sesuatu membutuhkan keberanian. Sedangkan mempercayai seseorang jauh lebih sederhana.
Dan mungkin di situlah akar persoalannya. Bukan pada kurangnya kecerdasan. Melainkan pada kerinduan manusia terhadap kepastian.
Kerinduan ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum media sosial lahir, para pemikir sudah mencatatnya. Di pertengahan abad ke-20, seorang psikolog bernama Erich Fromm menulis tentang sesuatu yang ia sebut sebagai “ketakutan akan kebebasan”. Menurutnya, kebebasan tidak selalu dirasakan sebagai hadiah.
Bagi banyak orang, kebebasan justru terasa mencemaskan karena ia menuntut tanggung jawab, pilihan, dan konsekuensi. Dalam situasi semacam itu, menyerahkan sebagian kebebasan kepada figur yang tampak kuat bukanlah tindakan bodoh—ia adalah pelarian psikologis yang sangat manusiawi.
Eksperimen Stanley Milgram pada 1960-an menunjukkan hal yang lebih mengejutkan. Orang biasa, dalam kondisi tertentu, bersedia memberikan sengatan listrik yang menyakitkan kepada orang lain hanya karena ada figur berjas putih yang memerintahkannya. Mereka tidak jahat. Mereka hanya tidak sanggup menolak otoritas. Kepatuhan, rupanya, bisa mengalahkan nurani.
Apa yang terjadi di media sosial hari ini adalah versi lunak dari eksperimen-eksperimen itu. Tidak ada sengatan listrik. Tidak ada paksaan fisik. Yang ada hanyalah layar ponsel dan algoritma yang terus-menerus menyajikan konten dari figur yang sama. Semakin sering seseorang menonton, semakin akrab ia merasa. Semakin akrab, semakin sulit untuk bersikap kritis. Kritik terhadap figur itu tidak lagi terasa seperti diskusi. Ia terasa seperti serangan pribadi.
Seorang pemuda di kota kecil membuka ponselnya selepas maghrib. Ia baru saja bertengkar dengan orang tuanya. Masa depannya terasa kabur. Di linimasa muncul seorang tokoh berkata, “Kalian tidak sendiri. Ada sistem yang sengaja membuat kalian menderita. Bangunlah, dan ikuti aku.”
Pemuda itu tidak sedang mengecek kebenaran klaim tersebut. Ia tidak membuka jurnal atau membandingkan sumber. Ia hanya merasa bahwa untuk pertama kalinya hari itu, ada yang berbicara mewakili kegelisahannya. Dan perasaan diwakili—itulah salah satu kekuatan terbesar yang bisa dimiliki seorang figur publik.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini semata-mata kesalahan sang tokoh? Ataukah ini cermin dari kegagalan institusi-institusi modern dalam memberikan rasa aman yang sama?
Dulu, manusia memiliki struktur yang jelas. Agama memberikan jawaban. Komunitas memberikan dukungan. Tradisi memberikan panduan. Namun modernitas, dengan segala pencapaiannya, juga berhasil mengikis banyak dari struktur itu. Orang menjadi lebih bebas, tetapi juga lebih sendiri. Lebih terhubung secara digital, tetapi lebih rapuh secara emosional. Dalam kekosongan itulah figur-figur karismatik menemukan lahannya.
Mereka tidak perlu selalu benar. Mereka hanya perlu hadir. Konsisten. Meyakinkan. Dan yang paling penting: mampu menyederhanakan dunia yang rumit menjadi narasi yang mudah dicerna.
Ini bukan cerita tentang Indonesia. Atau bukan semata-mata tentang Indonesia. Ini cerita tentang manusia modern di mana pun. Hanya saja, setiap tempat memiliki ekspresi lokalnya sendiri.
Di Amerika, fenomena ini muncul dalam bentuk televangelist dan motivator seminar. Di India, dalam wujud guru spiritual dengan jutaan pengikut YouTube. Di Korea, dalam sosok influencer yang mengubah gaya hidup menjadi agama baru. Dan di Indonesia, ia muncul dalam tokoh-tokoh yang akrab kita lihat setiap hari, mulai dari grup WhatsApp keluarga hingga linimasa TikTok. Yang membedakan bukanlah esensinya, melainkan kostum budayanya.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban sederhana. Sama seperti masalahnya yang tidak sederhana. Tetapi satu hal yang pasti: menyalahkan para pengikut tidak akan menyelesaikan apa pun. Mereka bukan korban yang bodoh. Mereka adalah manusia yang mencari pegangan di tengah dunia yang oleng.
Yang mungkin bisa kita lakukan adalah mulai membangun kembali semacam ketahanan nalar. Bukan sekadar literasi digital yang mengajarkan cara membedakan hoaks dan fakta—itu penting, tapi tidak cukup. Melainkan semacam keberanian untuk hidup dalam ketidakpastian. Semacam kesanggupan untuk berkata, “Saya belum tahu,” tanpa merasa kalah. Semacam kekuatan untuk mendengarkan figur tanpa kehilangan daya kritis.
Ini bukan pekerjaan satu generasi. Ini pekerjaan peradaban. Tapi ia bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dari sebuah percakapan di meja makan yang tidak menghakimi. Dari ruang kelas yang tidak hanya mengajarkan jawaban, tapi juga melatih keberanian untuk bertanya. Dari konten-konten digital yang tidak sekadar menggurui, melainkan menemani.
Manusia akan selalu mencari figur. Itu keniscayaan. Tapi kita bisa memilih: menjadi pencari yang pasif, yang menyerahkan seluruh akal pada satu suara; atau menjadi pencari yang aktif, yang menghormati tetapi tetap mempertanyakan, yang mendengarkan tetapi tetap berpikir sendiri.
Sumber ilustrasi: darmawanaji.com.
