Ketika Santri Turun Gunung

“Bukan begitu, Pak! Saya kebetulan lewat, saya adalah lulusan pesantren dan wajib bagi saya untuk memperbaiki yang sekiranya menyalahi akidah ataupun fikih. Apalagi lantunan bacaan al-Fatihah dan surat-surat tadi, jelas tidak memakai hukum tajwid yang berlaku,” lanjut Kang Hamim.

Imam surau tadi merasa tersinggung. “Le, dasar bocah kencur! Sedikit kuasai ilmu saja sok alim kamu. Kamu mau adu ilmu dengan saya? Lihatlah para jemaah… anak kemarin sore ini menegurku dan mengataiku bahwa salatku tidak benar. Bagaimana menurut kalian? Ikut aku atau dia?” tanya imam surau tadi di hadapan jemaah yang mendengarkan dialog mereka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jemaah kampung yang seluruhnya awam merasa tersinggung, karena imamnya didzalimi anak muda. Berbagai teriakan pun muncul sambil mengepalkan tangan.

“Dasar tidak ngajeni! Santri nggak ada akhlak! Pergi saja kamu dari sini!”

“Iya! Usir saja! Baru singgah saja sudah mengganggu ketentraman surau!”

“Santri nggak tahu adat! Usir! Usir! Takbir! Takbir!” Allahu Akbar!

Beramai-ramai Kang Hamim dicemooh, ditarik keluar dari surau, karena dianggap membuat ricuh suasana religi di kampung mereka. Kang Hamim menurut saja. Takut dimassa. Apalagi sampai dibakar. Dalam hati Kang Hamim berkata, “Memang lebih sulit nahi munkar daripada amar ma’ruf. Apa aku salah? Berusaha memperbaiki cara ibadah mereka? Dasar orang awam, tidak pernah makan dampar ya begitu. Salah tapi ngeyel.

Kang Hamim memutuskan kembali ke pondok menemui Kiai Mad. Ia ingin berkonsultasi apakah dia yang salah ataukah memang imam surau tersebut yang benar. Kang Hamim menemui Kiai Mad dan menceritakan peristiwa pengusiran yang dialaminya. Kiai Mad tersenyum.

“Hamim, berdakwah itu butuh konsep, proses, dan bertahap. Niatmu sudah benar, namun caramu perlu dibenarkan. Sebab, sing bener durung mesthi pener! (yang benar belum tentu sesuai). Mondoklah setahun lagi dan kajilah al-Hikam. Lalu, turun gununglah kembali. Insya Allah…”

Tinggalkan Balasan