Umar bin Khatab, yang saat itu sebagai khalifah namun lebih suka disebut Amirul Mukminin, mendapat sebuah kabar tentang penyakit yang menjangkiti wilayah Syam. Penyakit ganas ini bernama thaun amwas, yang menyebabkan benjolan di seluruh tubuh. Jika benjolan terus tumbuh nantinya akan pecah, di penderita mengalami pendarahan, dan bisa berakhir pada kematian.
Akibat wabah tersebut tercatat kurang lebih 20 ribu orang meninggal, termasuk di dalamnya adalah Abu Ubaidah, Gubernur Syam yang kakinya terkena luka dan tak sempat diselamatkan akibat wabah penyakit yang mengenai dirinya.

Wabah tersebut terjadi di wilayah Saragh, sebuah daerah di Lembah Tabuk, Syam. Awalnya sang Amirul Mukminin yang juga memperoleh julukan “Singa Padang Pasir” atau “Singa Gurun” karena keberaniannya di atas rata-rata, itu berencana melakukan kunjungan ke Syam. Ketika itu sudah bergabung dengan kekuasaan Islam.
Saat sampai di Saragh, Umar bertemu dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang ketika itu disebut menjabat Gubernur Syam. Abu Ubaidah memberitahu Umar bahwa wilayah Syam sedang terjadi wabah penyakit. Mendapat kabar tersebut Umar memutuskan berhenti di Saragh.
Dikutip dari Kitab Al Lu’lu wal Marjan karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, Umar kemudian berdiskusi dengan tokoh-tokoh senior Muhajirin. Abdullah Ibnu Abbas, seperti diriwayatkan dalam hadis Abdurrahman bin Auf, menceritakan bahwa ketika itu Umar meminta dipanggilkan beberapa tokoh Muhajirin. Sempat terjadi perdebatan antara tokoh senior Muhajirin dengan Umar bin Khattab. Ada yang menyarankan agar Umar tetap melanjutkan perjalanan ke Syam, namun tak sedikit yang meminta Umar kembali ke Madinah. Pertemuan itu pun akhirnya dibubarkan karena tidak menghasilkan mufakat.
Umar kemudian minta Ibnu Abbas untuk memanggil orang-orang Anshar guna mendiskusikan perihal perlu tidaknya Umar pergi ke Syam. Tetapi, sayangnya dalam musyawarah tersebut terjadi perdebatan sengit sehingga tidak menemukan kesepakatan.
Sekali lagi, Umar meminta Ibnu Abbas memanggil sesepuh Quraisy yang dulu hijrah pada peristiwa penaklukkan Makkah. Ibnu Abbas pun memanggil tokoh Quraisy yang ternyata tinggal dua orang saja. Kedua tokoh Quraisy menyarankan agar Umar mengurungkan niat untuk mendatangi Syam yang sedang dilanda wabah penyakit.

Hanya karena adanya berbagai kepentingan, maka kemudian muncul gerakan2 penentangan terhadap kebijakan pemerintah. Bahkan, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, ada juga yang sampai mengebiri agamanya sendiri. Merasa paling benar, di atas kebenaran yang Mahabenar. Dan ini adalah kebejatan moral. Na’uzdubillah,,,