Umar akhirnya menyetujui saran mereka untuk kembali ke Madinah. Umar berencana esok pagi kembali ke Madinah bersama rombongan yang berangkat bersamanya. Tetapi, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut. Ia berkata, “Apakah engkau ingin lari dari takdir, wahai Amirul Mukminin?”
“Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya,” jawab Umar.

Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf yang menjelaskan kepada Abu Ubaidah, bahwa yang akan dilakukan Umar adalah persis dengan sabda Rasulullah SAW:
“Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya, kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.”
Umar bin Khattab kemudian meminta Abu Ubaidah untuk meninggalkan Syam. Namun Abu Ubaidah menolak dan tetap tinggal di Syam. Dia kemudian terkena wabah yang mengakibatkannya meninggal dunia.
Wabah thaun di Syam baru mereda setelah Amr bin Ash menjabat Gubernur Syam menggantikan Muaz bin Jabal yang juga meninggal karena wabah thaun tersebut. Amr bin Ash yang menjabat Gubernur Syam mencoba menganalisis penyebab munculnya wabah tersebut. Setelah menemukan penyebab penyerbaran wabah, kemudian dilakukan karantina terhadap orang yang terinfeksi thaun. Ia melakukan pembatasan mobilitas antara yang yang sehat dan yang sakit seperti yang disabdakan Rasulullah. Penduduk Syam dengan sukarela patuh terhadap kebijakan Gubernur Syam. Setelah kebijakan tersebut dilaksanakan, perlahan-lahan wabah thaun mulai hilang.
Jika berkaca terhadap kisah Umar dan Amr bin Ash dalam menghadapi wabah, semua pihak seharusnya mematuhi program pemerintah, yaitu dengan melaksanakan protokol kesehatan atau melakukan karantina sehingga seperti wabah di Syam yang bisa teratasi. Sangat disayangkan jika ada orang yang bersikap abai terhadap protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah, bahkan cenderung memprovokasi untuk melakukan pembangkangan dengan membawa-bawa nama Tuhan.

Hanya karena adanya berbagai kepentingan, maka kemudian muncul gerakan2 penentangan terhadap kebijakan pemerintah. Bahkan, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, ada juga yang sampai mengebiri agamanya sendiri. Merasa paling benar, di atas kebenaran yang Mahabenar. Dan ini adalah kebejatan moral. Na’uzdubillah,,,