“Kurang lebih sekitar 11 tahun sudah melaksanakan acara Legin ini,” kata Abdul Waqi dalam sambutannya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan. Menurutnya, tahun ini terdapat sekitar 36 Legin yang ikut dalam rangkaian acara.

Setelah pembacaan narasi dan sambutan, suasana kembali dipenuhi lantunan sholawat Nabi. Peserta kemudian mengikuti Mahalul Qiyam sebelum doa bersama yang dipimpin KH Mahfud Ahsan selaku pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin.
Usai doa, Legin yang sejak awal ditata dan dipersiapkan dengan penuh perhatian mulai diambil satu per satu. Masyarakat membawanya pulang secara perlahan.
Di sana, Legin tidak hanya menjadi susunan buah yang dibentuk indah untuk dilihat. Ia menjadi cara masyarakat menyimpan ingatan tentang leluhur, merawat tradisi, sekaligus mengungkapkan rasa syukur.
Haul kemudian tidak berhenti pada ingatan terhadap seorang tokoh agama. Di dalamnya terdapat ruang bagi masyarakat untuk kembali mengingat hubungan mereka dengan alam, sumber air, desa, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kirab Legin menjadi salah satu penanda bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Kadang ia tumbuh dari halaman pesantren, dari buah-buahan yang disusun bersama, dari air yang diambil dari sumber, dan dari masyarakat yang masih bersedia menjaga apa yang diwariskan kepadanya.
