Pernyataan seorang menteri memiliki daya legitimasi yang jauh lebih besar daripada pendapat individu biasa. Oleh karena itu, anggapan bahwa karya penulis Indonesia lebih subjektif berpotensi memperkuat keyakinan bahwa pengetahuan dari Indonesia selalu membutuhkan pengesahan dari luar negeri agar dianggap bernilai.
Padahal, sejarah intelektual Indonesia justru memperlihatkan arah yang berbeda. Pramoedya Ananta Toer dibaca di berbagai universitas dunia karena ketajaman analisisnya terhadap kolonialisme dan kemanusiaan. Gus Dur dihargai berkat kemampuannya merumuskan gagasan tentang demokrasi, pluralisme, dan Islam yang berakar pada pengalaman Indonesia. Pengalaman Nusantara senantiasa memiliki kapasitas melahirkan teori, konsep, serta cara memahami realitas. Tantangan yang tersisa terletak pada keberanian untuk mengakui kapasitas tersebut sebagai sumber pengetahuan yang setara.

Barangkali, di titik inilah tradisi keilmuan pesantren menarik untuk direnungkan. Sejarah intelektual pesantren memperlihatkan keterbukaan terhadap berbagai sumber pengetahuan. Kitab-kitab karya Imam al-Syafi’i, Imam al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan ulama dari berbagai penjuru dunia menjadi bagian dari khazanah yang terus dibaca lintas generasi. Pada saat yang sama, khazanah tersebut tidak berhenti sebagai bahan bacaan. Ulama Nusantara juga menulis, menyusun syarah, menerjemahkan, hingga merumuskan gagasan yang lahir dari pergulatan masyarakatnya sendiri.
Nama-nama seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Sahal Mahfudh, Abdurrahman Wahid, dan M Quraish Shihab menunjukkan bahwa percakapan dengan tradisi keilmuan dunia berjalan beriringan dengan keberanian menghasilkan pemikiran dari Indonesia.
Oleh karena itu, keterbukaan membaca pengetahuan dari luar tidak berakhir pada sikap mengagungkan sumbernya. Refleksi tersebut terasa relevan dengan perbincangan hari ini. Ajakan membaca karya-karya Barat tentu memperluas cakrawala berpikir.
Lantaran setiap gagasan dipertemukan dengan pengalaman, konteks, dan kebutuhan masyarakat. sehingga, membaca selalu berjalan berdampingan dengan menulis, mengutip berdampingan dengan mengembangkan, serta menerima pengetahuan berdampingan dengan memproduksi pengetahuan baru. persoalanya, tradisi intelektual akan kehilangan daya hidup ketika sebuah masyarakat hanya hadir sebagai pembaca, pengutip, atau penerjemah, sementara keberanian melahirkan konsep dan pengetahuan dari pengalamannya sendiri perlahan memudar. Padahal, setiap masyarakat memiliki pengalaman historis yang dapat memperkaya percakapan ilmu pengetahuan dunia.
Dus, buku apa yang layak direkomendasikan untuk anak anak Indonesia?
Daftar Pustaka :
Cheryl McEwan, Postcolonialism, Decoloniality and Development (2nd ed., Routledge, 2018), terutama bagian Conclusion (p. 400).
