Mahasiswa Patani Keluarkan Pernyataan di Hari Perdamaian Internasional

Awal tahun ini, perundingan sempat dijadwalkan dilanjutkan di Kuala Lumpur setelah tertunda lebih dari dua tahun. Tetapi, dialog resmi yang dijadwalkan berlangsung September ini kembali ditangguhkan menyusul dua insiden kekerasan besar di Wilayah Narathiwat.  Sementara itu, BRN menegaskan bahwa eskalasi kekerasan mencerminkan kegagalan rundingan mencapai kemajuan, bukan penolakan terhadap dialog.

Kebuntuan inilah yang melatarbelakangi seruan mahasiswa Patani agar perdamaian kembali dijadikan agenda utama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Isi Pernyataan

Dalam pernyataannya, mahasiswa Patani menyoroti bahwa konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade membuat rakyat hidup dalam ketidakpastian, dibayangi kekerasan yang merenggut nyawa, keselamatan, hak, dan masa depan mereka sendiri di tanah kelahiran.

Mereka menegaskan bahwa perdamaian bukan milik satu pihak, melainkan hak bersama seluruh rakyat, dan tidak akan pernah tercapai secara berkelanjutan selama masyarakat tidak diberi ruang untuk bersuara.

Karena itu, dalam pernyataan bersama tersebut mereka mengajukan lima tuntutan. Pertama, penghentian segala bentuk kekerasan, dengan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama.

Tinggalkan Balasan