Sejak masa Rasulullah saw, masjid bukan hanya tempat salat. Dari masjid lahir pendidikan, musyawarah, penyelesaian persoalan sosial, bahkan perhatian kepada fakir miskin dan musafir. Masjid menjadi jantung kehidupan masyarakat. Ibadah dan kepedulian berjalan beriringan, bukan dipisahkan oleh sekat-sekat yang kaku.
Tradisi itu sebenarnya masih dapat ditemukan di banyak daerah. Musala menjadi tempat belajar membaca Al-Qur’an, tempat warga bermusyawarah menjelang peringatan hari besar Islam, tempat mengumpulkan bantuan ketika ada keluarga yang tertimpa musibah, bahkan menjadi ruang pertama yang membuka pintu ketika bencana melanda. Semua itu lahir bukan karena bangunannya megah, melainkan karena orang-orang yang menghidupkannya memiliki rasa memiliki terhadap sesama.

Sayangnya, tidak sedikit pula masjid yang mulai kehilangan fungsi sosialnya. Bangunannya semakin indah, pengeras suaranya semakin canggih, tetapi hubungan antartetangganya justru semakin renggang. Jamaah datang untuk salat, lalu pulang tanpa saling mengenal. Anak muda merasa masjid bukan ruangnya. Diskusi-diskusi yang menyentuh persoalan masyarakat semakin jarang terdengar.
Padahal, tantangan umat hari ini bukan hanya persoalan ibadah ritual. Kita berhadapan dengan kesepian, kemiskinan, krisis lingkungan, kecanduan media sosial, hingga pudarnya sopan santun dalam ruang digital. Semua itu membutuhkan komunitas yang saling menguatkan. Masjid dan musala memiliki peluang besar untuk menjadi ruang lahirnya kembali kepedulian tersebut.
