Walau tidak seperti warok tempo dulu, Mbah Wo dapat dikategori sebagai warok yang mewarisi tradisi itu cukup intens. Ini tidak mengherankan, karena ia sebenarnya adalah keturunan seorang warok terkenal di masa kolonial. Kakek dan ayahnya adalah seorang warok yang disegani terutama oleh masyarakat Ponorogo barat. Meski keraguan terhadap kewarokannya tak juga berhenti terutama oleh sebagian kalangan santri Ponorogo Timur.
Bahkan kritik sangat keras pun acap mencuat ketika ketegangan antarkelompok sosial pendukung partai politik menguat. Di tahun-tahun antara Golkar (Mbah Wo diidentifikasi sebagai pendukungnya) dan PPP yang konsentrasi pendukungnya dari kalangan santri Ponorogo Timur tegang, Mbah Wo tak mungkin bisa menghindar dari tudingan sebagai “warok gadungan” yang bukan saja tak tahu Reyog tetapi juga tidak mewarisi tradisi warok yang oleh kalangan santri diartikan sebagai wira’i.

Mungkin, Mbah Wo memang bukan seorang yang wira’i dalam pengertian sufistik maupun syar’i seperti yang dibayangkan kaum santri. Ia juga tidak berperawakan gagah-tinggi-besar dan menyeramkan siapa pun yang memandangnya sebagaimana kesan umum terhadap warok. Tetapi, orang kerempeng dan tidak begitu tinggi ini hidup sangat sederhana di sebuah rumah tak besar di tengah peluang luas untuk memenuhi kepentingannya jika ia mau.
Beberapa kali ia menolak bantuan dari Golkar maupun pemerintah untuk mengembangkan grup Reyognya, Pujangga Anom, karena muatan politisnya. Ia juga selalu ikhlas dan legowo memenuhi permintaan sejumlah grup Reyog di Jember, Banyuwangi, Malang, Blitar, Jakarta, Kalimantan, dan Riau untuk membangun dan memperkuat kesenian khas Ponorogo ini meski dengan imbalan yang hanya cukup untuk transportasi dan akomodasi sekadarnya. Baginya, tetulung marang liyan (menolong orang lain) adalah keharusan hidup yang mesti dijalani dengan senang.
Mbah Wo tak hirau terhadap semua itu. Keraguan dan kritik terhadap dirinya menyangkut kewarokannya tak membuatnya goyah. Tampaknya, disebut warok atau bukan, bukanlah hal yang penting baginya. “Sebutan orang-orang itu kan hanya warna-warni kehidupan; saya tetap menghargai itu hak orang lain. Yang penting saya tidak hanyut arus emosi mereka,” katanya tenang. “Begini lho dik, saya ini sejak lahir sudah berada dalam lingkungan keluarga yang, waktu itu, oleh banyak orang disebut warok. Apakah saya ini warok atau buka sekarang ini ngga penting,” lanjutnya. “Kalau warok itu dihubungkan dengan punya Reyog atau tidak, itu tidak penting, toh semua orang tahu sejak 1962 saya mempunyai grup Reyog yang hidup dan berkembang sampai sekarang,” belanya.
Agaknya, yang membuat Mbah Wo terpancing adalah soal diskriminasi atau penyudutan terhadap dirinya berkaitan dengan ajaran yang diemban. Karena, seperti yang dialaminya beberapa kali, penyudutan itu lebih bermotif politik yang menurutnya sangat merugikan. Sebagai penganut Purwa Ayu Mardi Utama yang konsisten, Mbah Wo memang lebih suka berterus terang kepada siapa dan pada saat mana pun.
