Di sinilah letak persoalan krisis prioritas pendidikan hari ini. Negara tampak lebih cepat menghadirkan program bantuan yang bersifat populis dan mudah dilihat hasilnya secara instan, sementara persoalan mendasar pendidikan masih belum sepenuhnya terselesaikan. Biaya pendidikan yang mahal, ketimpangan kualitas sekolah, akses pendidikan di daerah tertinggal, hingga rendahnya budaya literasi masih menjadi masalah serius yang belum tertangani secara maksimal.
Padahal, pendidikan memiliki dampak jangka panjang yang jauh lebih strategis dibanding bantuan konsumtif. Makanan memang dapat mengenyangkan dalam sehari, tetapi pendidikan dapat mengubah kualitas hidup seseorang selama puluhan tahun. Pendidikan melahirkan daya kritis, membuka peluang ekonomi, dan menciptakan mobilitas sosial bagi kelompok masyarakat bawah.

Bukan berarti program MBG tidak penting. Dalam konteks sosial tertentu, program tersebut tetap memiliki nilai kemaslahatan, terutama bagi anak-anak dari keluarga miskin yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi dasar. Anak yang lapar tentu sulit belajar secara optimal. Dalam kerangka maqashid syariah, program semacam ini dapat dipahami sebagai bagian dari hifz al-nafs atau menjaga kehidupan manusia.
Namun demikian, tafsir sosial mengingatkan bahwa keadilan tidak cukup diwujudkan melalui bantuan sesaat. Keadilan sejati ialah ketika negara mampu menciptakan sistem yang memungkinkan masyarakat bangkit secara mandiri. Dalam konteks itu, pendidikan menempati posisi yang sangat penting sebagai jalan transformasi sosial.
