Membaca Proses Kenabian dan Kerasulan Muhammad (2)

Aisyah ra, menuturkan: “Awal mula wahyu Rasulullah saw adalah mimpi nyata yang datang seperti fajar menyingsing.”

Uraian ini erat kaitannya dengan keterangan bahwa sebelum Nabi Muhammad memasuki tahap-tahap kenabian; jiwa dan hati serta perhatiannya telah tercurah dan terpusat pada pencarian kebenaran, seperti perilaku kelompok al-Hanifiyah. Beliau mendambakan agama Nabi Ibrahim. Allah telah mengarahkan kehidupan beliau pada jalan dan nilai kehidupan; jalan yang benar, mulia, dan penuh kebajikan. Pantas bila beliau menjadi prototipe bagi kemuliaan, kebajikan, dan kebersihan dari noda-noda lahir maupun batin. Sebuah nilai yang sepatutnya ada pada orang yang akan mengemban tugas suci.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Budi pekerti atau moralitas Muhammad yang luhur, mulai dari masa pertumbuhan sampai dewasa, merupakan bagian dari rangkaian penobatannya sebagai Nabi, meski tidak secara langsung.

Seperti yang diungkap dalam riwayat tersebut, bahwa Nabi Muhammad awal mula mendapat atau berhubungan dengan wahyu adalah melalui mimpi nyata seperti fajar menyingsing. Titik tekannya ada pada “mimpi nyata” seperti fajar menyingsing, yakni matahari yang mulai terbit.

Bila kita ingin menyaksikan bagaimana suasana matahari pagi yang baru terbit, bangunlah pada pagi hari kemudian keluar rumah menuju halaman atau cukup di depan pintu rumah, cahaya kuning-keemasan akan menyeruak, menyemburat ke seluruh penjuru, alam seketika terang benderang, menjadi indah dan mempesona. Saat sinar fajar pagi menyentuh tubuh kita dengan lembut dan pelan, seketika kehangatan menjalar ke sekujur tubuh kita. Begitulah keadaan ketika Nabi mengalami mimpi nyata sebagai wahyu pertama; indah, melapangkan dada, dan menenangkan jiwa. Kaum sufi juga mengalami hal demikian.

Peristiwa atau keadaan semacam itu dialami beliau sejak umur 39 tahun, buah khalwat atau perenungan di Gua Hira atau di tempat-tempat sunyi lain.

Tinggalkan Balasan