Memilih Pesantren: Ikhtiar Orang Tua untuk Anak

Di tengah citra pesantren yang belakangan menjadi sorotan publik di media sosial karena berbagai isu yang kurang baik, masih banyak orang tua yang tetap mempercayakan pendidikan anaknya ke pesantren. Kepercayaan ini tentu bukan tanpa alasan. Pesantren tetap dipandang sebagai salah satu tempat terbaik untuk menanamkan nilai agama, membentuk adab, dan menjaga lingkungan pergaulan anak.

Namun demikian, memilih pesantren bukanlah perkara sederhana. Ia bukan sekadar soal nama besar atau popularitas, tetapi menyangkut arah pendidikan dan pembentukan karakter anak dalam jangka panjang. Pengalaman merasakan mondok di beberapa pesantren yang berbeda memberi pelajaran bahwa setiap pesantren memiliki warna, sistem, dan penekanan yang tidak selalu sama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pesantren juga memiliki ragam fokus pendidikan. Ada pesantren modern yang menggabungkan pendidikan diniyah dan sekolah formal, ada yang menitikberatkan pada tahfiz Al-Qur’an, ada yang fokus pada pendalaman kitab kuning, dan ada pula yang mengembangkan keterampilan seperti kewirausahaan. Keragaman ini menunjukkan bahwa pesantren tidak bisa dipandang sebagai lembaga yang seragam.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya melihat “label”, tetapi benar-benar memahami fokus pendidikan di dalamnya: apakah lebih kuat di hafalan, pemahaman kitab, pembentukan kemandirian, atau kombinasi dari semuanya.

Dari situlah, ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan.

Pertama, pilih pesantren yang selaras dengan visi dan misi keluarga. Pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab lembaga, tetapi merupakan perpanjangan dari nilai-nilai yang telah ditanamkan di rumah. Ketidaksesuaian visi dapat membuat anak bingung dan kehilangan arah.

Kedua, pilih pesantren yang satu aliran atau setidaknya tidak bertentangan secara prinsip. Hal ini penting agar anak tidak mengalami kebingungan pemahaman di usia yang masih dalam tahap pembentukan.

Ketiga, perhatikan sosok pengasuhnya. Pesantren bukan sekadar sistem, tetapi juga figur. Kejelasan sanad keilmuan, adab, serta keteladanan pengasuh menjadi pondasi penting dalam pendidikan santri.

Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim juga diajarkan pentingnya memilih guru yang wara’, yaitu yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dan memiliki kehati-hatian dalam agama. Dari sosok seperti inilah, ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi juga diteladani.

Dalam satu kesempatan, KH M Idris Djamaluddin (pengasuh PP Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang) dawuh:

“Ngaji iku golek kyaine ta kitabe? Ngaji iku golek kyaine, mergo sing digoleki iku ilmu, dudu pengetahuan. Ilmu iku nggone nang ati, nek pengetahuan iku ana ing akal.”

Nasihat ini mengingatkan bahwa dalam menuntut ilmu, keberadaan guru yang membimbing dengan keteladanan jauh lebih menentukan dibanding sekadar banyaknya materi yang dipelajari. Sebab, ilmu bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga dihidupkan dalam sikap dan perilaku.

Keempat, perhatikan lingkungan pergaulan. Teman memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter anak. Lingkungan yang baik akan menjaga kebiasaan baik, sementara lingkungan yang kurang tepat dapat menggerusnya secara perlahan.Sebagaimana dalam nadzom Alala disebutkan:

#عنِ المرءِ لا تسألْ وسَلْ عن قرينِه

فإنَّ القرينَ بالمقارنِ يقتدي

(Jangan engkau tanyakan tentang seseorang, tetapi tanyakanlah tentang temannya, karena sesungguhnya seseorang itu akan mengikuti temannya).

Ungkapan ini menunjukkan bahwa seseorang sering kali terbentuk dari siapa ia bergaul. Karena itu, lingkungan pergaulan di pesantren menjadi faktor penting dalam menjaga dan membentuk karakter santri.

Selain itu, orang tua juga perlu memastikan bahwa lingkungan pesantren menjaga batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan secara baik. Tidak hanya dalam pergaulan antar santri, tetapi juga dalam seluruh aktivitas pendidikan. Penjagaan adab ini penting sebagai bentuk perlindungan sekaligus pembentukan karakter santri.

Kelima, perhatikan keseharian santri, bukan hanya program yang ditawarkan. Jadwal yang rapi tidak selalu menjamin terbentuknya adab jika tidak diiringi dengan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika memungkinkan, sebelum memasukkan anak ke pesantren, orang tua dapat melakukan pengamatan atau mencari informasi terlebih dahulu. Bagaimana kehidupan sehari-hari di dalamnya, bagaimana interaksi antar santri, serta bagaimana karakter para alumninya. Hal-hal semacam ini sering kali justru lebih menggambarkan keberhasilan pendidikan dibanding sekadar program yang tertulis.

Keenam, jangan hanya terpaku pada nama besar. Tidak sedikit pesantren yang dikenal luas, tetapi belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap keluarga. Sebaliknya, ada pesantren sederhana yang justru kuat dalam pembinaan akhlak.

Ketujuh, pastikan pesantren tidak hanya menekankan aspek keilmuan, tetapi juga pembentukan karakter. Sebagaimana nasehat Imam Malik: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah, sementara adab akan menjaga ilmu tetap pada jalurnya.

Dalam ungkapan yang dinisbatkan kepada beliau juga disebutkan: “Barangsiapa mempelajari tasawuf tanpa fikih, ia berpotensi menjadi zindiq. Barangsiapa mempelajari fikih tanpa tasawuf, ia berpotensi menjadi fasik. Dan barangsiapa menggabungkan keduanya, maka dialah yang mencapai kebenaran.”

Ungkapan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara pemahaman syariat dan pembinaan batin, agar ilmu tidak hanya benar secara hukum, tetapi juga hidup dalam akhlak.

Kedelapan, penting adanya komunikasi yang baik antara pesantren dan wali santri. Keterlibatan orang tua tetap dibutuhkan, meskipun anak berada di lingkungan pesantren.

Namun, komunikasi tersebut perlu dijaga dalam batas yang wajar. Orang tua tetap memberi kepercayaan kepada pesantren dalam mendidik anak, tanpa harus terlalu sering menghubungi yang justru dapat mengganggu proses pembelajaran dan kemandirian santri.

Di sisi lain, penting memastikan bahwa pesantren memiliki waktu atau mekanisme yang jelas untuk komunikasi dan kunjungan, agar hubungan antara anak dan orang tua tetap terjaga dengan baik.

Yang terakhir, pastikan pesantren yang dipilih sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga. Biaya pendidikan yang terlalu dipaksakan justru dapat menjadi beban dan mengganggu keberlangsungan proses belajar anak. Kesesuaian ini penting agar pendidikan dapat berjalan dengan tenang dan berkelanjutan.

Selain memilih pesantren, orang tua juga perlu memastikan bahwa biaya yang digunakan untuk pendidikan anak berasal dari sumber yang halal. Sebab, keberkahan ilmu tidak hanya ditentukan oleh tempat belajar dan guru, tetapi juga oleh apa yang menjadi penopangnya.

Insyaallah, jika hal-hal tersebut diperhatikan dalam memilih pesantren, anak-anak kita dapat lebih terjaga dari berbagai hal yang tidak diharapkan. Termasuk berbagai kasus yang belakangan menjadi sorotan publik, seperti pelecehan, perundungan, dan perilaku lain yang tidak selaras dengan nilai-nilai pendidikan pesantren.

Namun demikian, kita juga perlu menyadari bahwa tidak ada tempat yang benar-benar sempurna. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Karena itu, ikhtiar dalam memilih harus tetap diiringi dengan pengawasan, doa, dan pendampingan dari orang tua.

Pada akhirnya, sebaik apapun pesantren yang dipilih, orang tua tidak bisa sepenuhnya “menitipkan” pendidikan anak. Tanggung jawab itu tetap melekat, baik selama anak mondok maupun setelahnya.

Al-Qur’an telah memberi gambaran bahwa pendidikan seharusnya dimulai dari orang tua. Dalam nasihat Luqman kepada anaknya disebutkan:

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar…” (QS. Luqman: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan paling mendasar—tentang tauhid, adab, dan kehidupan—berawal dari orang tua, bukan semata-mata dari lembaga pendidikan.

Dalam nasihat ulama juga disebutkan bahwa pendidikan anak tidak berhenti pada siapa gurunya, tetapi sangat bergantung pada siapa yang terus membersamainya. Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan bahwa hati anak itu ibarat tanah kosong; apa pun yang ditanam di dalamnya akan tumbuh.

Anak adalah pribadi yang masih labil dan mudah terpengaruh. Terlebih ketika ia keluar dari pesantren untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih bebas, di situlah nilai-nilai yang selama ini ditanamkan benar-benar diuji.

Pesantren mungkin adalah tempat menanam, tetapi rumah dan orang tua adalah tempat merawatnya agar tetap tumbuh.

Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang di mana anak belajar, tetapi tentang siapa yang terus membersamai dan membimbingnya sepanjang perjalanan hidupnya.

Tinggalkan Balasan