Memuliakan Petani Menuju Lumbung Pangan

Lalu, sekularisme bermasyarakat merasuki kebiasaan, cara berpikir, menerjemahkan nilai-nilai dan ibrah beragama menjadi esensial dan komprehensif. Pemahaman dangkal, bahwa seorang yang melakukan pengajian, syiar, aktif di media maya, menjadi simbol yang lebih tinggi daripada seorang petani muslim yang bersimbah keringat, sibuk mencangkul tanah, menerapkan lima panca usaha tani, belum lagi problematika yang tersebut di atas dianggap lebih rendah dan tidak tampak melakukan dakwah.

Padahal, petani menjadi wakil Alllah SWT di muka bumi, menjadi khalifah, mengelola hasil bumi agar bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Bertani adalah seni, seni membaca musim dan iklim, seni merawat tanaman hingga berbuah atau berbulir, seni kesabaran menunggu, dan seni alam dengan memproporsionalkan air, pupuk, juga pesti-insektisida. Bertani adalah religi, mental spiritualitas keilahiahan. Mendoakan ketika memilih dan menanam bibit, berharap hujan ketika mulai menanam, asa panas ketika menjemur hasil tani, tawakal dengan kewajiban menanam bagi petani dan hasil panen adalah kehendak Allah SWT, berdoa khusyuk dan syukur ketika panen menghasilkan, sehingga pundi-pundi rezeki dapat dikais untuk menafkahi keluarga. Subhanallah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Memang, tidak dimungkiri ada beberapa petani di beberapa wilayah yang “nakal”. Dengan cara berpindah ladang seusai humus kesuburan yang berkurang, membakar hutan untuk dijadikan lahan, pupuk dan obat kimiawi berlebihan, dan sikap yang menentang sunatullah sebagai hukum alam.

Petani harus menjaga keseimbangan alam, agar tidak “membalas” dengan ketandusan, bencana alam, berkurangnya unsur hara, yang disebabkan eksplorasi yang miss dan over. Tidak banya itu, rekayasa genetika juga terus berproses dikembangkan dengan inovasi teknologi. Kreasi kromosom pada buah menciptakan beberapa varian bentuk dan rasa, juga jenis-jenis varietas bibit yang beraneka. Hal ini oleh MUI pada 2013 pernah diteliti dan dibolehkan, dengan azas kemanfaatan dan kemaslahatan.

Petani adalah khalifah bagi tanah. Manajemen mengolah bumi harus juga perlu dipikirkan take and give. Manusia janganlah berbuat kerusakan, di laut dan bumi, begitu Allah SWT berfirman. Manajemen keseimbangan demi mekanisme dan struktur manusia dan alam terjaga.

Krida Pertanian

Hari Krida Pertanian, yang jatuh pada 21 Juni, diperingati tidak hanya oleh petani, tetapi juga peternak, pegawai, dan pengusaha yang berkecimpung di sektor pertanian. Peringatannya memang masih kalah pamor dari hari besar lainnya. Terlebih lagi, generasi sekarang yang cenderung meremehkan profesi petani. Apalagi di era youtuber, drakor, tik-tok, dan hits-tren lainnya, membuat Krida Pertanian kurang akrab dan lekat ditelinga.

Tinggalkan Balasan