Memuliakan Petani Menuju Lumbung Pangan

Dari berbagai sumber, 21 Juni dipilih dengan berbagai pertimbangan. Segi pranata mangsa, yang secara historis pada akhir abad IX diprekenal dan diuraikan 12 musim ((1) Kasa/Kartika; (2) Karo/Pusa; (3) Katelu/Manggasri; (4) Kapat/Sitra; (5) Kalima/Manggakala; (6) Kanem/Naya; (7) Kapitu/Palguna; (8) Kawola/Wisaka; (9) Kasanga/Jita; (10) Kasepuluh/Srawana; (11) Desta/Padrawana; (12) Sada/Asuji), dan 21 Juni sebagai permulaan musim ke-I.

Segi astronomis seiring pergantian iklim yang selaras dengan perubahan kegiatan pertanian. Sisi komoditi, karena Juni-Juli pertanian membuat perhitungan laba-rugi, analisis SWOT, sekaligus antisipasi musim berikutnya. Hari Krida Pertanian adalah hari apresiasi, mawas diri, dan berbesar hati, atas hasil para petani yang bekerja untuk menghasilkan pangan serta tidak memandang remeh profesi petani.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Habiburrahman El Shirazy berujar, “Pernahkah kita berterima kasih kepada para petani penanam benih? Keramahan yang putih, ketulusan yang tak pernah menagih”. Sekiranya perlu Hari Krida Pertanian perlu lebih disosialisasikan dan diberikan prioritas seimbang dalam agenda strategis pemerintahan.

Petani Milenial

Regenerasi petani dan kualitas SDM menjadi faktor kesinambungan untuk meningkatkan sektor pangan di Indonesia. Modernisasi dari petani konvensional layak diprioritaskan, selain fasilitas terutama air yang menjadi kunci dalam bercocok tanam. Pemerintah juga semestinya mengendalikan inflasi pangan, bisa menekan harga, meminimalkan impor bahan pangan, dan implementasi pemerataan dari wujud keadilan sosial karena mayoritas petani berada di perdesaan.

Diperlukan sinergi antara berbagai pihak, pemerintah, swasta, dunia pendidikan, lembaga swadaya, ulama, dan masyarakat secara luas, terutama petani untuk menaikkan statis dan status petani dengan ritme kerja yang lebih berdaya saing.

Bertani adalah profesi yang baik, karena bekerja dilakukan dengan tangannya sendiri. Terdapat ibadah tawakal setelah berikhtiar. Menganggap “miring” petani, berarti meremehkan pangan yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Dan, tersedianya cukup pangan menjadi simbol kemakmuran sebuah negara dan kesejahteraan rakyatnya.

Tinggalkan Balasan