Gus Rofiq pernah menjadi aktivis HTI ketika masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Airlangga Surabaya sekitar tahun 1993-an. Waktu itu Gus Rofiq sangat gencar menyebarkan ide-ide Hizbut Tahrir (HT) di internet kampus, salah satunya membuat buletin yang disebarkan dan menjadi salah satu program Senat Mahasiswa. Sebagai salah satu keluarga Pesantren Tambakberas, Jombang, Gus Rofiq bahkan sempat menerjemahkan kitab karya ulama HT. Dengan demikian, ia tahu betul luar-dalam HT, siapa mereka sebenarnya, dan apa yang sesungguhnya mereka rencanakan.
Nah, sekarang setelah “murtad” dari HTI, pengetahuan tersebut kemudian digunakan untuk menangkis dan mengkritisi gerakan kaum Hizbiyyin, sebutan untuk pengikut eks-HTI.

Sebenarnya, menurut Gus Rofiq dalam satu artikelnya, kaum Hizbiyyin atau dikenal juga dengan sebutan kaum Khilafers jumlahnya sedikit tetapi militan. Manakala pimpinan pusatnya memberi instrukusi, maka pengikutnya akan patuh, dan tidak ada yang membantah alias spontan mengikuti perintah dan arahan pimpinan. Ini yang membuat isu-isu atau propaganda yang mereka embuskan lewat media sosial cepat menjadi trending.
Misalnya, Gus Rofiq menyoroti tentang dua propraganda HTI selepas ormas itu dibubarkan yang kemudian menjadi trending di medsos, yakni tentang menegakkan khilafah dan promosi film Jejak Khilafah di Nusantara (hal.1-2).
Bagi mereka, tulis Gus Rofiq di artikel lain, judul film yang ada muatan kata “khilafah” dan mereka sendiri yang menggarapnya, bisa menjadikan bagian penting untuk menjerat kawula milenial (gen Y dan gen Z) yang masih awam agama. Dan untuk lebih menyakinkan, seluruh tokoh dan simpatisan mereka dari berbagai bidang keahilian dan pekerjaan (dengan dilabeli sebagai kiai, ajengan, profesor, pakar ini, ahli itu, dan lain-lain) dimunculkan dan dimintai komentarnya terkait film tersebut. Tentu dengan harapan dengan adanya komentar tersebut, gen Y dan gen Z akan terbuai, terlena dan terperangkap, lalu bisa diajak masuk dalam lingkran dan jaringan mereka (hal.6).
