Selain itu ada juga aurat yang harus ditutupi meski itu merupakan sebuah kebenaran. Misalkan nanti kalau anak bertanya, “Darimana dulu aku dilahirkan?” Tidak lantas seorang ibu membuka celana dan menunjukkan tempat di mana anaknya dilahirkan dan menjadi bayi. Itu kebenaran yang harus ditutupi.
Namun ada juga kebenaran yang harus dibuka. Yaitu batasan aurat tentang kebatilan seseorang seperti korupsi, pembunuhan, dan tindakan kriminal lainnya. Itu harus dibuka agar menjadi pelajaran bagi semua orang bahwa kebatilan akan senantiasa mendapatkan hukuman.

Media sosial sekarang menjadi ajang pamer aurat. Penggunanya harus siap ditelanjangi dan menelanjangi orang lain. Itulah pornografi sesungguhnya. Tidak jelas batasan aurat yang harus ditutupi dan yang harus dibuka. Tidak jelas juga batasan aurat yang indah dan yang jelek. Bahkan tidak jelas pula mereka menyadari batasan aurat yang benar dan aurat yang salah. Semua serba telanjang. Mengumbar aurat ke seluruh dunia.
Karena itu, sepertinya kini sangat dibutuhkan ikhtiar edukasi moral dengan mengupas esensi aurat yang lebih kompleks. Sehingga agama bukan sekedar pakaian dan ritual ibadah tanpa makna. Sebab, jika mengumbar aurat adalah dosa yang besar, seberapa banyak dosa kita sebab hobi menelanjangi diri (dan orang lain) di muka umum?
