Menjadi Sunda Muslim atau Muslim Sunda?

Pernah mendengar orang menyebut upacara adat Sunda sebagai musyrik? Atau ngaruat, tradisi membersihkan desa, dianggap sebagai perbuatan syirik? Benarkah adat dan tradisi Sunda bertentangan dengan agama, dalam hal ini Islam?

Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, anggapan-anggapan semacam ini bermunculan. Ada yang dengan tegas mengharamkan gending karesmen (nyanyian ritual Sunda), menolak sesajen bubur suro, bahkan menyebut tabuik pantun sebagai bidah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yang jadi masalah, tuduhan-tuduhan seperti itu tidak datang dari orang yang jauh dari Sunda. Justru, dari orang Sunda sendiri, yang terjebak dalam pemahaman agama secara tekstual sempit. Mereka membaca teks, tapi tidak menelaah konteks. Mereka mengutip dalil, tapi lupa memahami asbabun nuzul-nya. Alih-alih mengkaji lebih dalam, mereka memilih menyederhanakan sesuatu yang sebenarnya kompleks.

Terjebak Pemahaman Tekstual

Kenapa masih banyak orang terjebak dalam pemahaman tekstual yang sempit? Ada banyak hal yang melatarbelakanginya. Pertama, kurangnya akses pada kajian yang mendalam. Ini terjadi karena banyak orang yang belajar agama hanya lewat kultum singkat atau status media sosial. Padahal, memaknai teks keagamaan butuh penguasaan banyak disiplin ilmu, baik memahami ushul fikih, ilmu tafsir, asbabun nuzul, bahkan sejarah. Tanpa semua itu, seseorang dapat terjebak dalam literalisme atau tekstualisme, sebuah pemahaman harfiah tanpa melihat maksud sebenarnya dari suatu ayat.

Kedua, adanya budaya “fatwa cepat” di era digital. Sekarang, fatwa-fatwa atau tausiah keagamaan mudah diakses, tapi juga gampang disalahartikan. Orang bisa langsung share pendapat ulama tanpa memeriksa validitasnya. Jika seorang kiai bilang “jangan ikuti budaya takhayul,” langsung digeneralisasi, padahal mungkin konteksnya berbeda.

Ketiga, masih ada dikotomi agama versus  tradisi yang dipaksakan. Ada pendakian yang ironik, bahwa semakin ‘islami’ seseorang, maka ia harus semakin meninggalkan budayanya. Ini membuat sebagian orang Sunda malu mengakui identitasnya, bahkan sampai meninggalkan bahasa Sunda karena dianggap “kurang islami”. Tragis.

Poho Kana Purwadaksi

Istilah poho kana purwadaksi (lupa pada jati diri) sering dipakai untuk menggambarkan generasi muda Sunda yang mulai menjauhi akar budayanya. Seni pantun buhun jadi asing, angklung dianggap kuno, dan budaya Sunda lainnya mulai ditinggalkan. Bukan salah mereka sepenuhnya.  Lingkungan turut membentuk penalaran bahwa “yang modern pasti lebih baik, yang lama harus ditinggalkan”. Padahal dalam Islam tidak demikian. Terdapat suatu kaidah ushul fikih yang menyatakan,

المحافظة على قديم الصالح والأخذ بالجديد الاصلح

Artinya: “Menjaga tradisi lama yang baik, dan mengadopsi tradisi baru yang maslahat.”

Lantas, apakah semua tradisi Sunda itu musyrik? Tentu tidak. Faktanya, tradisi Sunda banyak yang sejalan dengan nilai Islam. Mari kita bedah.

Contoh pertama adalah Ngalaksa (gotong royong panen padi). Dalam tradisi ini terdapat nilai ta’awun (tolong-menolong) yang selaras dengan QS. Al Maidah [5]: 2.

Tinggalkan Balasan