Kemudian ada Mapag Sri (penghormatan sesajen dalam rangka menyambut musim panen). Tradisi ini bukan menyembah dewi, akan tetapi sebagai munajat rasa syukur pada Allah.
Lalu ada Ngalokat Cai (penghormatan sesajen atas keberadaan keberlimpahan air). Dalam tradisi ini, air benar-benar dihormati dan dihargai keberadaannya. Karenanya, mafhum, bahwa air merupakan titipan Tuhan kepada manusia sebagai khalifah fil ardl. Hadirnya tradisi tersebut dimaksudkan agar manusia tidak mudah menyia-nyiakannya. Hal tersebut selaras dengan QS. Al Baqarah [2]: 30.

Kemudian, mengapa tradisi Sunda banyak dianggap syirik? Karenanya, banyak orang mengalami kegagalan dalam membedakan bentuk dan esensinya.
Penyegaran Pemahaman
Kehadiran Kang Dedi Mulyadi, sebagai Gubernur Jawa Barat, membawa angin segar. Dalam berbagai kesempatan, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan pembangunan yang berlandaskan “jati diri Sunda-Islami”. Malah, Kang Dedi sering berbicara dalam bahasa Sunda di acara resmi, memakai iket (peci Sunda), dan mendukung festival budaya tanpa ragu. Ini bukan sekadar pencitraan, tapi upaya menegaskan bahwa jadi orang Sunda yang taat beragama itu bukan kontradiksi.
Kang Dedi bukan satu-satunya. Cendekiawan seperti Asep Salahuddin dalam bukunya Sufisme Sunda, menuturkan, bahwa banyak tradisi Sunda justru mengandung nilai tasawuf. Selebihnya, bahkan konsep silih asah, silih asih, silih asuh (saling mempertajam, mengasihi, dan memelihara) yang selaras dengan ajaran Islam tentang ukhuwah.
Pesantren: Jembatan Teks-Konteks
Ini bukan soal memoles tradisi agar terlihat islami. Akan tetapi, ini menyoal pemahaman yang utuh. Karenanya, di sinilah peran pesantren yang tidak sekadar mengajarkan fikih, tapi juga mengasah manhajul fikri (cara berpikir) dalam memandang realitas.
Ada beberapa alasan kenapa keberadaan pesantren dapat menjadi jembatan antara yang tekstual dan kontekstual. Pertama, di pesantren diajarkan ushul fikih, yang tidak memandang semua hal secara hitam-putih. Ushul fikih masih merujuk pada urf, tradisi yang diterima selama tidak bertentangan dengan syariat. Contohnya, Rasulullah saja membiarkan tradisi Jahiliyah yang baik, seperti hilful fudhul, sebuah perjanjian atau persekutuan yang terjadi di Mekkah sebelum masa kenabian. Tradisi tersebut merupakan kesepakatan antarsuku Quraisy untuk melindungi siapapun yang dizalimi, baik dari kalangan mereka sendiri maupun dari luar). Lalu, mengapa kita terlalu buru-buru menghakimi budaya lokal Sunda sebagai kemusyrikan?
