Menukar Surga dengan Sekop Tambang

Di sinilah letak relevansi atsar klasik yang tadi disebut. Sang lelaki tua menjawab, “Tanah subur yang bisa menghidupi orang lain, tidak menjadi beban.” Coba bandingkan dengan tambang: ia tidak menghidupi, tapi mengisap. Ia bukan keberlanjutan, tapi ekstraksi-eksploitatif. Ia bukan aset jangka panjang, tapi utang ekologis. Maka, siapa sebenarnya yang waras: lelaki tua dari masa lampau, atau para pengambil kebijakan yang percaya bahwa nikel bisa menggantikan nilai tanah hidup?

Dan jawaban atas pertanyaan Mu’awiyah tentang emas dan perak juga sepatutnya membuat kita berpikir ulang. “Kalau kau keluarkan, ia habis. Kalau kau simpan, ia tak bertambah.” Bukankah ini sindiran keras pada logika ekonomi ekstraktif kita hari ini? Zero some games? Di mana tanah dikuras, hasilnya dijual, dan setelahnya kita hanya punya kenangan dan lubang? Tambang bukan aset, tapi kenangan buruk dengan aroma zat kimia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kalau logika keuangan modern terus didahulukan atas prinsip keberlanjutan, maka dalam satu dekade ke depan, kita mungkin hanya bisa menikmati Raja Ampat lewat AI-generated virtual reality. Kita akan bercerita pada cucu kita bahwa dulu, sebelum drone dan tambang datang, ada surga di timur Indonesia tempat ikan-ikan berenang di bawah langit merah muda. Dan mereka akan menjawab, “Ah masa sih, kok sekarang cuma ada berita konflik dan lubang raksasa?”

Dan ketika itu terjadi, Raja Ampat bukan sekadar jadi kenangan, tapi jadi catatan kaki dalam sejarah bencana peradaban. Kita akan memproyeksikan gambar-gambar digital tentang keindahan bawah laut yang dulu nyata, tapi kini cuma bisa disaksikan lewat kacamata virtual. Mirip seperti bagaimana arkeolog kini meneliti Sundaland—sebuah kawasan luas yang dulu membentang dari Sumatra hingga Papua, penuh kehidupan dan hutan tropis, sebelum ditelan lautan akibat naiknya permukaan air pasca Zaman Es.

Sundaland adalah peringatan keras dari masa lalu. Kawasan yang kini menjadi lautan dangkal di Laut Jawa dan Laut Cina Selatan itu dulunya adalah daratan yang kaya, tempat berkembangnya komunitas manusia awal di Asia Tenggara. Tapi perubahan iklim, kenaikan air laut, dan ketidaksiapan manusia mengubah segalanya. Suara peradaban itu menghilang, ditelan gelombang, digantikan oleh pasir laut dan reruntuhan tak bernama—bukan soal benar atau tidaknya, tapi tentang pola berulang: peradaban yang sombong terhadap alam biasanya tidak panjang umur.

Jadi, jika Raja Ampat hari ini dihancurkan demi nikel, dan dalam beberapa dekade ke depan tenggelam karena kenaikan air laut atau kerusakan ekosistem, jangan salahkan Tuhan. Salah kita yang tidak belajar dari sejarah. Salah kita yang lebih percaya pada angka ekspor ketimbang hikmah geologi. Salah kita yang tidak paham bahwa tanah yang diberi kehidupan justru kita bunuh duluan.

Kalau Sundaland bisa tenggelam dan hilang dari peta karena ulah alam dan mungkin kesalahan manusia zaman dulu, apa jaminan Raja Ampat tidak akan menyusul? Apa kita pikir kita lebih canggih dari peradaban yang telah musnah? Justru karena kita tahu lebih banyak, tanggung jawab kita lebih besar. Dan kalau tetap kita abaikan, maka barangkali kita sedang dengan sadar menciptakan “Atlantis versi Indonesia”—dengan spreadsheet, izin tambang, dan pidato pejabat sebagai prasasti keruntuhannya.

Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun kecuali diri sendiri. Karena kita memilih diam. Karena kita terlalu mudah silau dengan janji ekspor dan cuan cepat. Karena kita membiarkan pejabat—yang bahkan belum tentu bisa berenang—memutuskan nasib laut tropis yang tidak mereka pahami. Karena kita tidak menjalankan kaidah dasar yang mestinya jadi fondasi moral: cegah kerusakan dulu, baru bicara manfaat.

Bukankah Tuhan sudah beri kita modal alam yang luar biasa? Air yang jernih, tanah yang subur, kekayaan laut yang tiada duanya. Tapi entah mengapa, kita malah sibuk menggali tanah seolah Tuhan keliru menaruh kekayaan di permukaan. Kita korek bumi, tebang hutan, lalu heran kenapa banjir datang dan nelayan melarat. Kita seperti anak kecil yang diberikan mainan, lalu memilih menghancurkannya karena penasaran apa isinya.

Aneh memang. Ketika dunia sedang sibuk menyelamatkan planet, kita justru mengajukan proposal tambang. Ketika negara-negara maju mulai bicara ekonomi sirkular dan restorasi alam, kita malah menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah jalan masuk ke dalam perut bumi. Padahal bumi ini sudah cukup tua untuk tahu: manusia yang tidak tahu cukup, akan dihukum oleh kerakusannya sendiri.

Maka, mari kita perjelas satu hal: melindungi Raja Ampat bukan sekadar aksi lingkungan. Ini adalah bentuk keberadaban. Ini adalah ujian moral kita sebagai bangsa yang katanya menjunjung tinggi nilai agama, keadilan sosial, dan harmoni dengan alam. Dan ujian ini, sejauh ini, hasilnya belum terlalu membanggakan.

Kita bisa berbeda pandangan tentang jenis pembangunan, tapi kita tidak bisa berbeda fakta bahwa kerusakan ekologi itu nyata, menyakitkan, dan mahal. Jadi sebelum ada yang menuding gerakan #SaveRajaAmpat sebagai penghambat pertumbuhan ekonomi, mari kita balik tanya: Pertumbuhan seperti apa yang ingin Anda capai jika harga yang dibayar adalah kepunahan?

Jika masih ada logika waras yang tersisa di ruang-ruang kekuasaan, maka satu-satunya keputusan bijak adalah menutup semua aktivitas tambang di Raja Ampat, secara permanen. Karena tanah ini terlalu berharga untuk dijadikan eksperimen korporasi. Karena laut ini terlalu suci untuk dilumuri logam berat. Dan karena warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan pada generasi berikutnya bukanlah lubang tambang, tapi tanah subur yang terus memberi kehidupan.

Jadi, bilamana Raja Ampat akhirnya bernasib seperti Sundaland—tenggelam, hancur, atau sekadar menjadi legenda alam yang dibicarakan dalam seminar lingkungan—maka biarlah itu menjadi warisan kita: sebuah prestasi bangsa yang berhasil menukar surga nyata dengan laporan laba rugi.

Kepada para pemangku kebijakan, mungkin sejarah akan mencatat Anda bukan sebagai pembangun negeri, tapi sebagai ahli waris peradaban yang bangkrut nurani. Bukan karena tak tahu hukum, tapi karena terlalu pintar memutar tafsirnya. Dan untuk kedua kalinya saya bertanya, masihkah cinta tanah air bagian dari iman? Antara iman dan Investasi, ke mana cinta tanah air ini berkiblat?

Tinggalkan Balasan