Merayakan 7 Tahun Perjalanan duniasantri

Sementara itu, salah satu Dewan Pembina JDS, M Halim Pohan, mengungkapkan ketertarikannya ketika pertama kali diajak bergabung dalam jejaring duniasantri. Ia melihat momentum tujuh tahun ini sebagai kesempatan untuk menjaga kesinambungan gerakan yang telah dibangun sejak awal.

“Saya tertarik terus terang saat diajak bergabung. Saya punya motivasi,” tuturnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ia kemudian mengaitkan usia tujuh tahun dengan filosofi pitulungan, yakni semangat saling menolong dan menguatkan. Menurutnya, filosofi tersebut dapat menjadi pijakan untuk menjaga kesinambungan JDS ke depan.

“Momen ke-7 ini katanya filosofinya itu pitulungan. Kita jaga dan kuatkan kesinambungan ini,” katanya.

Halim Pohan juga mengenang kegiatan JDS di Universitas Indonesia yang pernah mendapat dukungan dari Rachmat Gobel. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan jejaring.

Ia berharap kegiatan-kegiatan JDS ke depan dapat berkembang lebih baik, bukan hanya dari sisi kegiatan, tetapi juga dalam kesinambungan gagasan dan institusi.

“Gagasan kesinambungan ide, institusi, perubahan intern. Kita juga di setiap acara harus ada glow up-nya,” ujarnya.

Nostalgia juga datang dari Dr Alfian Siagian. Ia mengenang Bisri Effendy sebagai sosok yang pernah menjadi tempat berdiskusi ketika dirinya masih menyelesaikan disertasi untuk program doktoralnya.

Ia mengaku senang melihat sejumlah kegiatan JDS, terutama kegiatan yang berlangsung di Pesantren Tebuireng pada Agustus 2025. Baginya, salah satu hal yang perlu kembali diperkuat dalam perjalanan JDS adalah gerakan literasi di kalangan santri.

“JDS ini harus menggiatkan lagi literasi ke santri. Dan sudah saatnya duniasantri go global,” katanya.

Salah satu tamu yang datang dari Tebuireng, Rara Zarary, mengaku pertemuan di Rumah Merah juga menghadirkan pengalaman emosional tersendiri. Ia merasa Rumah Merah telah menjadi tempat yang semakin akrab baginya.

Tinggalkan Balasan