“Rasanya saya lebih banyak pulang ke sini daripada ke Madura,” ungkapnya disambut tawa hadirin.
Ia mengatakan, kesempatan hadir dalam peringatan tujuh tahun tersebut terasa istimewa. Terlebih, sebelumnya ia mengaku sempat membaca kembali sejarah berdirinya jejaring duniasantri.

“Insyaallah duniasantri akan selalu sangat luar biasa. Kami juga sempat beberapa kali membaca sejarah berdirinya jejaring duniasantri. Rumah ini membuat kami lebih memahami sejarah itu,” tuturnya.
Sementara itu, sohibul bait yang juga Ketua Dewan Pengawas JDS, M Meylana Hermawan, menyambut hangat kehadiran para tamu yang berkumpul di rumah tersebut. Ia menyebut beberapa nama yang menjadi bagian dari perjalanan awal duniasantri, yang kemudian dikenang sebagai bagian dari “Pandawa Lima”.
“Pandawa Lima ada Cak Tarno, Mukhlisin, Bisri Effendy, Ko Daniel, Kang Zastrouw. Terima kasih sudah berkenan hadir di Rumah Merah,” ujarnya. Istilah “Rumah Merah” sendiri, menurutnya, muncul dari Ning Atiqoh Sekretaris JDS.
Di tengah nostalgia tersebut, Jamal D. Rahman membawa perenungan yang lebih simbolik. Ia menceritakan pengalamannya ketika membaca karya Bisri Effendy tentang Pesantren Annuqayah. Dari sana, ia mengajak para peserta melihat usia tujuh tahun JDS melalui simbol tujuh ayat dalam Surah Al-Fatihah.
Menurutnya, tujuh tahun perjalanan JDS dapat dimaknai sebagai “Al-Fatihah”, sebuah doa pembuka yang terus dibaca dan menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Islam.
“Kita bisa menganggap tujuh tahun jejaring duniasantri ini sebagai Al-Fatihah, karena Al-Fatihah ada tujuh ayat, dan salah satu dari tujuh surat yang paling sering dibaca. Semoga jejaring duniasantri bisa menjadi Al-Fatihah,” ungkapnya.
Setelah tumpengan dan rangkaian nostalgia, kegiatan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Bisri Effendy. Para pendiri dan peenggerak JDS bersama peserta yang hadir berziarah sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu sosok yang turut meletakkan fondasi perjalanan jejaring tersebut.
Ziarah itu menjadi penutup yang sekaligus mempertemukan kembali masa lalu dan masa kini. Mereka yang masih melanjutkan perjalanan JDS datang kepada salah satu orang yang pernah memperjuangkannya, membawa doa sekaligus harapan agar gagasan yang telah ditanam tidak berhenti pada satu generasi.
Tujuh tahun kemudian, Rumah Merah kembali menjadi saksi. Pada sore 17 Agustus 2026, di usia ketujuh, orang-orang yang pernah menjadi bagian dari sejarah itu kembali pulang untuk mengingat dari mana perjalanan mereka bermula.
