MERAYAKAN KEABADIAN
: untuk Silvi
“Silvia, rimembri ancora
quel tempo della tua vita mortale
…. di gioventù salivi?“
—A Silvia, giacomo leopardi

Seberkas kenangan itu masih menggantung
di antara senyum yang tak sempat kupeluk,
di jalan setapak tempat masa muda kita
hanya bisa saling menatap dari kejauhan.
Ingin aku kembali, tetapi waktu berdiri seperti tebing
menghalangi langkah yang sudah rapuh oleh jeda,
dan antara kita ada musim yang berbeda usia,
menunda segala yang pernah terasa mungkin.
Lalu aku belajar merawat jarak,
memahami bahwa masa depanmu dan masa depanku
sedang mencari bentuknya sendiri,
meski hatiku terus berjalan ke arahmu.
Vonis antara kita bukan kehampaan,
tapi ruang untuk tumbuh masing-masing—
kita sama-sama menata hari
dalam sunyi yang tak henti memantulkan bayang.
Inginku tetap tinggal sebagai luka lembut,
denyut tiap malam memanjang—
rindu di hati yang lenggang.
23 November 2025.
NERACA KASIH SAYANG
:Untuk Ibu
Demi anakmu yang kaulahirkan
dengan deras keringat dan derai air mata,
rambatan sakit dan tidak peduli nyawa.
Semua itu hanya untuk manusia yang entah akan paham kondisimu atau tidak. dan demi anak yang kau asuh sepenuh cinta hingga tumbuh dewasa,
demi anak yang kaurindukan masa kecilnya,
demi anak yang mulai merasa dapat mengambil
keputusan dengan semestinya.
Sungguh demi anak yang kau doakan dan perjuangkan,
hingga berpuasa demi kelancaran hidupnya,
rela menghadap pencipta di saat yang lain terlepap dalam tidurnya.
Rummi pernah berkata pada suatu mimpi,
sang pencipta itu rugi dan dirinya itu untung.
pencipta itu rugi dan dirinya itu untung.
Oh ibu, engkau rugi dan diriku untung,
