dua ekor laron
mengepung sisa gerimis
dari pincuk daun mangga,
sebagaimana sunyi
mengepungku jadi kendi
tanpa air dan bunga melati.

BAYANGAN HUJAN
di tanah, kerat sayatan air
menulis peta kepergian,
kepergian adalah takdir
yang ditakuti tulang,
ilalang diam dalam ligih
tegak menyusu suhu
memahat wajahmu di perut batu,
batu yang menampung
bayangan hujan
menghapus kesedihan
dengan tikai air yang berceceran.
MATA IBEL
di matamu, lebat serampai bunga
melepas salam ke bebatuan;
batu-batuku pecah mencarah arah
hingga aku jadi pasir halus
yang menimang kerinduan
sepanjang kemarau
dan di matamu itu
bertemu hujan.
