Panggil Aku Gus Parit…

Pagi setelah ngaji, kami yang bersekolah siap-siap mandi. Aku pun mengikuti skenario Parit.

“Din, ini lo sampoku. Pakai saja nggak apa-apa. Merek baru dijamin wangi,” kataku yang sudah mirip dengan salesman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Benar saja, Udin menerimanya. “Kebeneran ini, sampoku habis. Makasih ya, Sal.”

Selesai mandi, Udin cengar-cengir menemui kami di ghurfah. “Eh, samponya ko baunya aneh ya, nggak berbusa, tak siram kena mulut ko rasanya asin manis gitu.”

Parit tertawa. “Ha-ha-ha… merek baru itu, Din! Sampo rasa Bango.”

Kejadian itu tidak membuatnya jera. Udin tetap tidak bermodal untuk nampang keren di madrasah. Tambah gregetan Parit. “Lihat saja, Sal! Kali ini aku akan membuatnya jera! Kalau tidak jera, jangan panggil aku Parit.”

“La, manggil siapa?” tanyaku.

“Panggi aku Gus Parit!”

Parit kemudian pergi ke jemuran khusus para pengurus pondok. Ia mengambil jaket dari jemuran dan membawanya ke kamar.

“Din, jaketku baru. Kamu nggak mau pakai, to?” Parit berusaha menawarkan.

“Wuih… keren. Baru dikirimi paket dari rumah to, Rit,” Udin mulai masuk jebakan.

“Sudah pakai saja. Nanti kalau kamu pakai keliatan keren. Cewek-cewek pasti ngeliatin kamu. Kesengsem,” kata Parit sambil menyodorkan jaketnya.

Pulang sekolah, begitu memasuki gerbang pondok, tiba-tiba kami dipanggil salah satu pengurus pondok. “Le..le.. kalian berlima sini dulu.”

Tinggalkan Balasan