Kami pun mendekat. “Udin, jaket kamu ko bagus Din. Ko mirip sama punyaku ya,” Gus Nur salah satu pengurus pondok, bertanya.
“Inggih, Gus! Apik nggih, saya tadi di kelas tadi jadi perhatian lo,” kata Udin bangga.

“Mosok to, le! Coba copot dulu. Aku ko ya pengin makai,” Udin mencopotnya dan menyerahkan kepada Gus Nur, salah satu pengurus pondok bagian keamanan dan ketertiban, santri yang paling ditakuti di kompleks kami.
“La, betul to! Ini jaketku, Din. Liat di bawahnya ada tulisan arab ‘Nur’. Ghasab itu, Din. Meminjam tanpa izin dulu sama pemiliknya.”
Udin memandang Parit dan aku yang sedari tadi cekikikan. Udin pun dihukum Gus Nur untuk piket selama seminggu. Menyapu seluruh teras kompleks A yang terdiri dari 10 kamar bawah dan 10 kamar bawah. Rasakan!
Tapi Udin belum jera juga. Jadilah, Gus Parit makin semangat karena tidak berhasil.
“Kali ini harus berhasil,” tekad Parit kepadaku.
“Kalo nggak berhasil, suruh manggil gus lagi? Dapat gelar gus dari Hongkong. Enak kamu, dipanggil Gus bukan karena anaknya Kiai, tapi karena rencana yang tidak berhasil,” protesku.
“Jangan, kalau ini berhasil, tiga mi goreng yang kamu sembunyikan di lemari, biar untuk aku saja. Ha-ha-ha….”
Tanpa sepengetahuan kami, Parit membawa wadah bekas minyak rambut merek tertentu. Warna wadahnya biru. Bentuknya jel atau krim berwarna putih. Parit pergi ke gudang pondok, kemudian mengisi wadah minya rambut tadi dengan lem rajawali yang putih. Sekilas terlihat sama, hanya beda bau. Lalu, ia letakkan di kaca rias di kamar yang biasa digunakan untuk menyisir rambut atau mencari jerawat untuk dipencet.
Benar saja! Udin demi melihat barang bagus langsung memakainya tanpa curiga. Dioleskan minyak rambut tadi seperti bayangannya. Full, dioleskan merata ke semua bagian rambut. Awalnya belum terasa efeknya. Hingga saat kami mau ngaji sore Udin kelabakan.
“Rek, rambutku kaku. Gak bisa lemes. Diapa-apakan tetap kaku. Njekengkeng!” Udin mulai panik.
Akhirnya, rambut Udin yang memang sudah terkontaminasi dengan lem rajawali. Harus direlakan digunting habis. Digundul plontos tanpa ampun. Udin kecut, kesal, tapi mau bagaimana lagi. Parit tersenyum, lalu tertawa lebih keras dari biaanya.
