Kedua, mengasah daya kritis. Tatkala melihat sebuah fakta atau fenomena, kita harus berusaha membaca sesuatu yang lain atau sesuatu yang tersembunyi di balik fakta tersebut. Misalnya, saat kita melihat pemberitaan di TV mengenai kasus atau peristiwa, kita tidak melihatnya dari sudut pandang kebanyakan. Kita berusaha menangkap “ada apa di balik peristiwa” tersebut. Kalau pemberitaan selama ini berkata A atau B, kita berusaha untuk menyuguhkan alternatif dengan pilihan C atau D (halaman 17). Jadi, selain berupaya melihat fakta dari perspektif lain, kita berupaya membuat sebuah rangkaian analisa yang dipertajam.
Selain itu, daya kritis diperlukan agar keingintahuan atau rasa penasaran kita terus bergolak. Jika rasa ingin tahu sudah tidak bisa dibendung, maka kita akan terus didesak untuk mencari jawabannya.

Sejatinya, buku ini adalah penyemangat agar keinginan untuk menulis terus menggelora dalam dada kita. Buku ini menyajikan kiat-kiat menulis mudah dan kreatif dengan mengemas kisah pengalaman para santri dalam dunia tulis-menulis.
Disampaikan dengan bahasa lugas, ringan, serta enak dibaca, baik sambil duduk ataupun rebahan. Bagi saya, buku ini tak sekadar kisah perjalanan santri menjadi seorang penulis, tetapi juga dapat dijadikan bahan perenungan untuk menemukan jati diri, menambah pengalaman, dan semangat untuk terus berkarya demi sebuah “keabadian”.
Data Buku
