Pada abad ke-19-20 M, sebagaimana penjelasan Amirul Ulum dalam al-Jawi al-Makki: Kiprah Ulama Nusantara di Haramain, Madrasah Shaulathiyah dan Dar al-Ulum menjadi tempat menuntut ilmu banyak pelajar dari komunitas al-Jawi, atau orang Nusantara di Haramain. Tradisi jaringan al-Jawi al-Makki terus berlanjut hingga masa ini.
Dan itu memunculkan banyak ulama dari komunitas al-Jawi. Beberapa di antara mereka ada Syekh Mahfud at-Tremasi, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Yasin al-Fadani, dan masih banyak lagi. Ulum dalam bukunya menjelaskan 25 biografi ulama Nusantara yang punya kiprah di Haramain pada abad ke-19-20 M.

Mufti Ali dan Ade Jaya Suryani dalam laporan penelitian mereka, “Reports on Ongoing and Past Research Project Laboratorium Bantenologi’s Biographies of Ulama and Religious Leaders in Banten 1810-2000,” menyebutkan daftar 50 ulama Banten di Makkah. Di antara nama-nama itu, ada yang amat terkenal seperti Syekh Nawawi al-Bantani, dan ada ulama perempuan seperti Nyai Arnah Cimanuk.
Kita tidak tahu pasti berapa jumlah ulama Nusantara di Haramain pada masa ini, namun kita bisa memastikan jumlah mereka ada banyak. Jika pada dua abad sebelumnya, kiprah jaringan al-Jawi al-Makki mewarnai pembaruan Islam di Nusantara, maka pada dua abad ini kiprah jaringan ulama ini juga mewarnai transmisi keilmuan di Makkah.
Pada masa ini, orang Nusantara tidak hanya pergi belajar, namun juga ada yang mengajar di Makkah. Banyak ulama besar di Makkah yang berasal dari komunitas al-Jawi. Syekh Nawawi al-Bantani bahkan dijuluki sebagai sayyidu al-ulama al-Hijaz (penghulu para ulama di Hijaz). Ada lagi julukannya sebagai imam al-ulama al-Haramain (imamnya para ulama di Haramain).
Ada juga Syekh Mahfud at-Tremasi yang menjadi ulama besar di Makkah. Di antara keutamaannya adalah kealimannya dalam bidang hadis. Ia memiliki dua sanad hadis sampai ke Imam al-Bukhari, yaitu melalui sanad ilmu dari Syekh Abu Bakar Syatha dan Kiai Abdullah (ayahnya). Dan, masih banyak lagi ulama Nusantara lainnya yang punya kiprah di Makkah pada dua abad ini.
Tentu tidak semua talenta ulama Nusantara berkiprah di Makkah, ada yang memilih kembali ke Nusantara. Kiai Hasyim Asy’ari termasuk santri al-Jawi di Haramain yang memilih kembali. Ia menjadi kiainya para kiai (hadratussyaikh) di Jawa. Di antara peran Kiai Hasyim di Nusantara adalah merawat corak Islam Nusantara. Pembelaan Kiai Hasyim terhadap pengamalan Aswaja masyarakat Nusantara, yang mendapat kritik dari kelompok puritan, itu tergambar salah satunya melalui tulisannya berjudul Risalah Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah.
Sampai di sini, pembacaan kiprah jaringan al-Jawi al-Makki telah menyajikan suatu sejarah kepada kita, bahwa ulama Nusantara ikut menjadi aktor penting dalam perkembangan Islam, baik dalam corak Islam di Nusantara bahkan dalam tradisi keilmuan di Makkah.
