Perempuan Berkuda di Panggung Sejarah

Pengalaman bergorganisasi dan berpolitik ini menjadikan Umrah sebagai tokoh penengah saat terjadi konflik di PPP DPW Yogyakarta pada 1975. Diceritakan oleh Rosa, proses pengangkatan Umrah sebagai Ketua DPW PPPP karena ada perselisihan. Saat itu dia didatangi utusan dari DPP, Darussamin, dan diminta menjadi Ketua DPW PPP untuk meredakan perselisihan. Atas permintaan ini Umrah menyanggupi asal mendapat restu dari Kiai Ali Maksum Krapyak. Kiai Ali setuju dan mendukung pemilihan Umrah menjadi Ketua DPW PPPP Yogyakarta. Sejak saat itu dia menjadi Ketua DPW PPP Yogyakarta selama dua periode.

Proses pengangkatan Umrah menjadi Ketua DPW PPP ini mengingatkan saya pada sosok Kalinyamat yang menjadi penengah saat terjadi konflik Kesultanan Demak. Sebagaimana dicatat dalam sejarah, pada akhir kekuasaan Sultan Trenggono terjadi konflik antara Pangeraan Sedo Lepen dengan Sunan Prowato. Anak Pangeran sedo Lepen, Ahrio Penangsan dendam atas peristiwa ini, sehingga membunuh suami Ratu Kalinyamat. Dalam suasana seperti ini, Kalinyamat hadir di tengah pusaran konflik untuk mengendalikan dan menyelesaikan konflik demi menjaga eksistensi Demak agar jangan sampai pecah. Menurut penelitian Anas Sofiana (2017), Ratu Kalinyamat berhasil menjalankan tugas mengatasi konflik Kerajaan Demak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meski dengan intensitas dan skala yang berbeda, keduanya menunjukkan peran perempuan di pusaran konflik politik. Keduanya menunjukkan perempuan tidak hanya menjadi pemicu konflik, sebagaimana yang dikonstruksi oleh kaum misoginis selama ini. Keduanya membuktikan bahwa perempuan Nusantara memiliki peran dalam menyelesaikan konflik politik, termasuk perempuan dari kalangan pesantren.

Menyimak paparan sejaraah dari para sahabat dan Mbak Rosa serta putra putri Bu Nyai Umrah Mahfudlah pada malam itu, saya membayangkan bahwa perempuan penunggang kuda memang ada dan nyata, bukan sekadar mitos. Selain Nyi Ageng Serang yang lahir dari kalangan punggawa kerajaan, ternyata ada juga perempuan penunggang kuda yang tampil di pentas sejarah politik Indonesia yang berasal dari kalangan pesantren, yaitu Bu Nyai Hj Umrah Mahfudlah Tholhah Mansur. Perjalanan sejarah beliau layak diungkap untuk menjadi sumber isnpirasi generasi muda saat ini. Laha al-faatehah.

Tinggalkan Balasan