Sebagai inti dari festival, Pestarama menghadirkan rangkaian karya teater yang diadaptasi dari naskah para maestro di Gedung Teater Bulungan, Jakarta Selatan, pada 12–14 Mei 2026. Rangkaian pementasan dibuka pada Selasa (12/5) dengan lakon Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C. Noer yang disutradarai oleh Milatunnajiah. Pertunjukan ini mengisahkan Jumena Martawangsa, pengusaha tua yang terjebak trauma masa lalu dan labirin kesepian akibat obsesi terhadap harta.
Pada malam kedua, Rabu (13/5), panggung diisi oleh pementasan Robohnya Surau Kami naskah karya Hermana HMT yang diadaptasi dari cerpen legendaris A.A. Navis. Di bawah arahan sutradara Luthfi Ibrahim, lakon ini menghadirkan kritik sosial yang tajam mengenai batas antara kesalehan ritual dan tanggung jawab kemanusiaan melalui runtuhnya keyakinan seorang kakek garin.


Rangkaian drama ditutup pada Kamis (14/5) melalui pertunjukan filosofis Musyawarah Burung yang disutradarai oleh Humairoh Azzahra. Menggunakan bahasa simbolik, lakon ini menggambarkan perjalanan spiritual manusia melepaskan ego duniawi demi menemukan hakikat ketuhanan melalui pencarian sosok “Simurgh”.
Di tempat yang sama, para penonton juga disuguhkan Pameran 1 dekade Pestarama yang menampilkan memorabilia produksi Pestarama sejak 10 tahun yang lalu, serta biografi dari tokoh-tokoh dramawan yang naskah-naskahnya pernah ditampilkan dalam pertunjukan Pestarama.
Rosida Erowati selaku produser menegaskan bahwa Pestarama tahun ini dirancang sebagai satu kesatuan festival kebudayaan yang utuh, bukan sekadar pementasan drama terpisah. Ketiga naskah ini adalah cermin kontemplasi atas materialisme dan krisis batin manusia modern.
Namun, kekuatan Pestarama ke-11 sebagai sebuah festival juga terletak pada keberagaman ruang ekspresinya serta terbangunnya ruang perjumpaan yang cair, reflektif dan inklusif antara sivitas akademika dengan masyarakat di luar kampus. Ruang-ruang ini yang membangun keterhubungan antarpelaku dan penonton, mengembangkan praktik melalui experiential dan project-based learning, serta menanamkan memori kolektif tentang kebersamaan dalam ekosistem teater.
