Pilih Mana, MBG atau Sekolah Gratis?

الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ

Artinya: “Dia-lah (Allah) yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari sini, sungguh betapa mulianya orang yang memiliki sifat suka memberi, lebih-lebih memberikan jaminan makanan agar manusia tidak kelaparan.

Jika presiden, dengan program MBG-nya, memberikan jaminan makanan yang bergizi pada kelompok-kelompok yang memang membutuhkan, berarti ia telah memosisikan dirin sebagai wakil Tuhan dalam memberikan jaminan untuk umat-Nya dan menjalankan kewajibannya untuk masyarakatnya.

Tentu sebagai masyarakatnya, harus mendukung dan menerima kebijakan makan bergizi gratis ini. Dalam konteks ini, Ibnu an-Najjar, ulama dari kalangan mazhab Hambali, pernah berkata dalam kitabnya yang berjudul Muntaha al-Iradat:

أَنَّ مَنْ امْتَنَعَ مِنْ أَكْلِ الطَّيِبَاتِ بِلاَ سَبَبٍ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ

Artinya: “Sungguh orang yang tidak mau mengonsumsi makanan yang baik (makanan yang bergizi) tanpa ada sebab, maka ia termasuk orang mubtadi’ (ahli bid’ah).”

Berdasarkan kutipan ini, maka siapa pun yang tidak menerima kebijakan MBG, tanpa ada sebab yang jelas, berati ia termasuk bagian dari ahli bidah.

Namun, yang perlu digarisbawahi dari ungkapan ini adalah menolak makanan –termasuk MBG–tanpa ada sebab.

Berdasarkan data yang diliput oleh media Liputan 6, ada 65,4 persen masyarakat mendukung program MBG. Sementara itu, yang tidak mendukung sebesar 32,7 persen. (Dilansir dari Peneliti Utama Cyrus Network Syahril Ilhami dalam konferensi pers hasil survei nasional, secara daring, Selasa (14/4/2026)).

Artinya,  jika mengacu pada data ini, jumlah masyarakat yang mendukung jauh lebih besar. Akan tetapi, di satu sisi, guru besar teknologi pangan dan hasil pertanian dari UGM, Sri Raharjo, melihat data sepanjang 2025, kejadian keracunan makanan dalam program MBG hampir terjadi setiap bulan. Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sejak awal 2025 hingga April 2026 tercatat sebanyak 33.626 pelajar sempat mengalami keracunan yang diduga dari MBG.

Tinggalkan Balasan